Selasa, 08 Oktober 2013

I HEAR YOUR VOICE Episode 8 - 1

“Sekitar pukul 11.00 tadi malam, restoran ayam di Myeongwol-dong, Seongmoo city, terjadi kebaran dengan penyebab yang belum diketahui. Api membakar beberapa bagian restoran dan menyebabkan kerugian yang diperkirakan sebesar 5.4 juta won, dan berhasil dipadamkan dalam 15 menit.

Dalam kejadian, pemilik restoran yang berumur 52 tahun, Nyonya Eo, meninggal dunia dan setelah kebakaran padam, pekerja berumur 43 tahun, Tuan Min, yang terluka di tangan dan kakinya, telah diperiksa setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Polisi dan petugas pemadam kebakaran akan mengirimkan surat panggilan untuk hadir di pengadilan pada pekerja, setelah pemeriksaan untuk penyelidikan penyebab kebakaran yang sebenarnya.”
                                        

Episode 8
For Whom Am I Living?



 Joon-guk pada petugas: “Saya ingin diperiksa di daerah tempat tinggal saya. Bisakah saya mengajukan pemindahan tempat?”
*** 
Beberapa minggu kemudian.
Hakim Kim datang ke pemakaman Ibu Hye-sung bersama dua rekan hakimnya. Hakim Kim bilang pemakaman ini sudah telat. Temannya mengatakan hal ini karena menunggu hasil otopsi. Hakim Kim bertanya apakah tersangka dituntut untuk pembakaran rumah. Dan hakim kacamata bilang kasus ini ditugaskan di pengadilan mereka.
Hakim Kim mengeluh, dari sekian banyak pengadilan, mengapa di alihkan ke tempat mereka, sedangkan tempat kejadiaannya di Seongmoo city. Itu sepertinya karena tempat tinggal tersangka disini dan dia yang meminta dipindahkan, ujar teman Hakim Kim.

Kwan-woo menyerahkan daftar nomor telpon teman ibunya Hye-sung pada Yoo-chang dan meminta Yoo-chang untuk menghubunginya. Kwan-woo sendiri akan mengambil beberapa makanan untuk pemakaman.


Hakim Kim dan kedua temannya memberikan penghormatan terakhir pada ibu. Hakim Kim menggenggam tangan Hye-sung.
“Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan agar membuatmu nyaman.”

Hye-sung: “Terimakasih untuk kedatangannya. Dan, Hakim, tentang kasus…..”
Hakim Kim: “Jangan khawatir. Aku sudah mengaturnya.”

Pengacara Shin berbincang dengan Hakim Kim.
Pengacara Shin: “Apakah Min Joon-guk telah memohon untuk pengacara yang ditetapkan pengadilan?”
Hakim Kim: “Ya.”

Pengacara Shin: “Untuk kasus Min Joon-guk, jangan menunjuk Pengacara Cha atau aku untuk menjadi pengacaranya. Kami tidak bisa menjadi pengacara untuk orang yang telah membunuh ibunya Pengacara Jang.”

Hakim Kim: “Baik, akan saya usahakan. Tapi, kata-kata yang baru saja kau katakan tidak seperti kau.”

Pengacara Shin: “Apa?”
Hakim Kim: “Bahkan persidangan belum dimulai. Kematian ibunya Pengacara Jang adalah kemalangan. Tapi, siapa yang menjadi kriminal belum ditentukan.”

(Maksudnya Pengacara Shin udah bilang aja kalau Min Joon-guk itu pembunuh, padahal persidangannya aja belum di mulai. Dan itu tidak seperti Pengacara Shin yang biasanya.)

*** 
 Joon-guk: “Aku sungguh tidak membunuhnya. Mengapa aku membunuh boss? Aku memperlakukannya dengan 100% rasa hormat. Mengatakan bahwa aku membunuhnya dan membawaku ke pengadilan, itu tidak berperasaan.”  Joon-guk memasang muka memelas.

Do-yeon: “Bossmu pasti adalah orang yang baik.”
Joon-guk: “Sangat sulit jika dijelaskan hanya dengan kata-kata. Walaupun dia tahu aku mantan narapidana, dia mempekerjakan aku.” Joon-guk mulai akting menangis, “Dan di hari ulang tahunku, dia memberikan sup rumput laut untukku, mie, dan makanan lainnya.”  (Air mata buayaaaa…..!)



Do-yeon memberikan tisu pada Joon-guk, “Aku mengerti. Lalu, walaupun ada api dalam restoran, kau lari kedalam untuk menyelamatkannya.”
Joon-guk: “Ya. Aku berpikir walaupun aku akan mati, aku harus menyelamatkan bossku.”  Joon-guk menghapus air mata buayanya sambil menunduk.

Do-yeon: “Tapi, melihat catatanmu, kau punya kejadian masa lalu dengan putrinya.”
Joon-guk: “Dan karena itu, kau mungkin menyangka bahwa aku membunuhnya. Tapi, ini juga sebuah kesalahpahaman.”

Do-yeon: “Mengapa?”
Joon-guk: “Sepuluh tahun yang lalu, aku membunuh seseorang dalam kecelakaan mobil. Itu hanya kecelakaan, tapi anak itu melihatku seperti penjahat. Dia mengatakannya di persidangan dan tanpa penjelasan, aku menjadi seorang pembunuh.”

Do-yeon: “Lalu, dalam kejadian itu, kau tidak membunuh orang, tapi kecelakaannya yang membunuh orang. Jadi, persidangan berjalan dengan salah.”
Joon-guk: “Itu benar. Aku juga korban dari kejadian itu. Aku korban pengadilan.”

Do-yeon: “Ada sesuatu yang tidak kau ketahui. Kecelakaan mobil sepuluh tahun yang lalu, saksinya bukan hanya Jang Hye-sung. Masih ada satu saksi lagi.”
Joon-guk: “Apa?”

Do-yeon menatap tajam Joon-guk: “Saksi yang lain adalah aku.”
Joon-guk pun mengingat kejadian itu, ada dua orang gadis yang melihatnya.

Do-yeon masih menatap tajam Joon-guk: “Dalam ingatanku, kejadian itu bukan hanya kecelakaan mobil biasa.. Otak manusia sangat menarik. Walaupun kau mengatakan kebenaran sepuluh kali, dengan kebohongan satu kali saja, aku pasti meragukannya. Apakah kebenaran yang dikatakan sebelumnya atau apakah ini adalah kebenaran yang nyata. Sampai ketemu di pengadilan, Min Joon-guk.”

Joon-guk terdiam.
*** 

Soo-ha berada di luar kantor polisi, dia melihat Joon-guk yang digiring ke dalam mobil.

“Pikirkan sebuah rencana. Pikirkan. Apa yang harus ku lakukan?” kata-kata di pikiran Joon-guk. 

 Soo-ha berjalan dan kemudian berlari menghampiri Joon-guk, “Hey kau bajing*an!!”
Soo-ha memukul Joon-guk dengan penuh emosi, “Mengapa kau melakukannya? MENGAPA?! Mengapa kau membunuh orang yang tidak bersalah?! Mengapa?!”

Joon-guk: “Aku tidak melakukannya. Aku tidak membunuhnya! Itu benar!!”

 Tapi pikirannya berkata lain, dan Soo-ha mengetahuinya. Mereka bertatapan.

 Soo-ha semakin emosi dan mencekik leher Joon-guk, “Kau menyebut dirimu manusia?! Bagaimana bisa manusia melakukan itu?! Bagaimana?!”
Joon-guk kehabisan nafas, “Tolong aku. Tolong aku, kumohon.”

 Soo-ha di tahan oleh dua orang polisi. Joon-guk masuk ke dalam mobil tahanan, sesaat menoleh dan mereka saling bertatapan lagi.
Soo-ha benar-benar emosi.
***

Hye-sung sedang menulis sesuatu. Tidak jauh dari sana Kwan-woo memandanginya dengan iba, sambil menyiapkan makanan. Kwan-woo menghampiri Hye-sung.
Kwan-woo: ‘”Ini, makanlah. Kau belum makan apapun sepanjang hari.”
Hye-sung: “Aku tidak lapar. Di waktu senggang, aku sudah makan sedikit. Karena ku tidak punya banyak saudara, aku tidak punya tempat bersandar. Haruskah aku menyewa seseorang? Haruskah aku menghubungi temannya ibu untuk penguburannya?”

Kwan-woo mengambil buku dan pulpen yang dipegang Hye-sung, “Aku kan menyelesaikannya. Mari kita makan bersama dulu. Aku juga belum makan, jadi kita bisa makan bersama.” Kwan-woo membantu Hye-sung memegang sendoknya.
Hye-sung: “Terima kasih.”
Mereka pun makan bersama.

Hye-sung: “Besok kau banyak kasus kan? Cepatlah pulang setelah makan.”

Kwan-woo: “Aku tidak mau. Aku pacar Pengacara Jang sekarang. Jika kau sendirian, kau akan menangis. Jadi, aku tidak bisa pergi.”

Hye-sung: “Biarkan aku sendiri. Jadi aku bisa menangis.”
Kwan-woo: “Pengacara Jang.”
Hye-sung: “Kau bisa melakukannya untukku kan? Bagaimanapu juga, kau pacarku sekarang.”

Kwan-woo terlihat sedih.

 Hye-sung sendirian di depan altar. “Apakah ini penyakit? Jika bukan, apakah aku sungguh kuat?”
(Hye-sung sepertinya tidak/belum menangis…)

Soo-ha datang.
Hye-sung: “Kau kemana saja? Sepertinya tidak ada di sekitar sini.”
Soo-ha: “Aku pergi untuk….. bertemu dengan Min Joon-guk.”

Hye-sung: “Apa yang dia katakan?”
Soo-ha: “Bahwa dia tidak membunuh ibu. Bahwa ini tidak adil.”

Hye-sung: “Bagaimana dengan yang kau lihat? Apakah dia benar tidak membunuh ibu?”
Soo-ha: “Tidak.”  (maksudnya tidak benar kalau Joon-guk tidak membunuh ibu.)

Hye-sung: “Bagaimana ibuku saat akan meninggal…. Apa kau mengetahuinya?”

Soo-ha mengangguk, dengan berat dia mengatakan, “Min Joon-guk… saat-saat terakhir, membiarkan dia berbicara denganmu di telpon.”

Hye-sung tampak berpikir: “Telpon denganku? Telpon apa……”

Hye-sung mengingatnya.
Hye-sung: “Ibu? Ibu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?”
Ibu: “Apa yang kau katakan?”
Hye-sung: “Ibu tidak menyembunyikan suatu rahasia dariku kan? Seperti berpura-pura tidak merasakan sakit atau memiliki waktu yang buruk karena tidak mau membuatku khawatir, kan?”
Ibu: “Aku punya.”
Hye-sung: “Apa?”

Ibu: “Mengatakan bahwa pekerjaan adalah belahan jiwamu dan berpikir bahwa kau tidak akan menikah.”

Hye-sung merasakan sesak di dadanya.


Hye-sung: “Apa itu? Aku serius. Tidak ada hal lain kan?”.
Ibu: “Ya tidak ada.”
Hye-sung: “Jika ada, ibu harus memberitahuku. Mengerti? Aku tutup telponnya.”

Ibu: “Tunggu, Hye-sung!”
Hye-sung menahan sesak di dadanya dan berdiri. 
Ibu: “Hye-sung…kau mendengarku? Mata untuk mata dan gigi untuk gigi. Jika kau hidup seperti itu, seluruh dunia akan terhalangi.”
Hye-sung: “Apa yang kau katakan?”
Ibu: “Semua orang yang menyakitimu, itu karena mereka cemburu. Karena kau sangat beruntung. Itu karena mereka cemburu. Jadi, jangan membenci mereka. Jangan merasa seperti itu, dan kasihanlah pada mereka.”

Hye-sung: “Ibu berada dipihak Do-yeon, kan?”

Pertahanan Hye-sung runtuh. Dia tidak bisa lagi menahan tangisnya. Sesak di dadanya terlalu sakit. Hye-sung hanya bisa memanggil ibunya.

“Eomma…. Eomma… Eomma! Eomma! Eomma! Eomma!”

Hye-sung menghampiri altar dan memandang foto ibu, “Eomma, apa yang aku lakukan? apa yang harus kulakukan? aku tidak tahu?! Eomma…..”

Ibu: “Berjanjilah.. kau tidak akan membenci seseorang sampai membuat hidupmu hancur. Saat seseorang dilahirkan ke dunia, hidup ini tidak cukup panjang untuk mencintai satu sama lain, benarkan?”
Hye-sung: “Baikah. Aku mengerti.”

Ibu: “Baik. Itu baru gadisku….” 




 Tangis Hye-sung semakin kencang, “Eomma, aku tidak tahu… aku tidak tahu itu akan jadi yang terakhir!! Ibuku kasihan sekali. Apa yang aku lakukan? Apa yang aku lakukan, eomma…..”

Soo-ha ikut menangis… Soo-ha menghampiri Hye-sung dan memeluknya.
***
Hakim Kim dan dua teman hakimnya sedang makan bersama di restoran kepiting. Kwan-woo datang menghampirinya dengan berlari. Hakim Kim menanyakan apa yang membuat Kwan-woo datang menemuinya.

Kwan-woo: “Aku tidak akan pernah bisa menangani kasus Min Joon-guk. Aku telah mengatakan padamu sebelumnya bahwa aku tidak akan bisa menjadi pengacaranya!”
Hakim Kim: “Aku tahu. Tapi masalahnya adalah aku sudah menugaskan pada pengacara lain, tapi semuanya mengundurkan diri. Bagaimana bisa kita menjalankan persidangan tanpa pengacara pembela?”

Kwan-woo: “Pengacara Jang bekerja bersamaku dalam satu kantor. Bagaimana bisa aku….membantu orang yang membunuh ibunya….”

Hakim Kim menyela: “Kita belum mengetahui dia membunuhnya atau tidak! Kita hanya akan mengetahuinya setelah persidangan.”
Kwan-woo emosi: “Hakim Kim!”

Hakim Kim: “Aku sangat mengerti kau berada dalam posisi yang sulit. Akan tetapi, ini bukan perkara yang bisa kau pilih dengan bebas. Dalam situasi seperti ini, pembela umum di berikan tanggung jawab khusus. Dan kau pembela umum khusus, Pengacara Cha.”

Kwan-woo masih tidak menyerah, “kalau begitu, tolong diganti pada Pengacara Shin. Aku secara pribadi akan memintanya pada Pengacara Shin.”
Hakim Kim: “Itu juga akan sulit.”

Kwan-woo: “Mengapa?”
Hakim Kim: “Min Joon-guk secara khusus meminta kami untuk membuatmu menjadi pengacaranya.”
***
Pengacara Shin sedang meneliti berkas di mejanya. Di sekitarnya ada Yoo-chang yang mondar mandir gelisah.
Yoo-chang: “Hakim Kim, anda tahu, bagaimana bisa dia jadi kejam! Apakah mungkin dia adalah anti-fan Pengacara Cha?”

Pengacara Shin: “Mereka mengatakan bahwan pengacara lain semuanya mengundurkan diri.”
Yoo-chang: “Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan suasana di kantor kita? Pengacara Cha adalah pembuat keyakinan (morale maker) di kantor kita. Tapi jika dia berubah menjadi gelap (suram), seluruh kantor kita akan menjadi gelap juga!”

Pengacara Shin: “Jangan cemas, tidak akan menjadi gelap karena kerepotanmu itu.”
Yoo-chang: “Lalu bagaimana dengan Pengacara Jang? Jika dia mengetahui bahwa Pengacara Cha mengambil kasus Min Joon-guk, dia akan menjadi gila!”

Hye-sung masuk ke kantor dan mendengar omongan Yoo-chang.

Pengacara Shin kesal dan berteriak: “HEY! DUDUK! Aku akan menjadi gila lebih dulu karena kau!”
Pengacara Shin melihat Hye-sung, “Ah…Pengacara Jjang….”
Yoo-chang kaget seperti melihat hantu, “Pengacara….Jjang? oh ya ampun….”


Hye-sung bertanya, “Siapa…mengambil kasus siapa…?”
Kwan-woo sedang membuka dan membaca berkas di kursi taman. Kwan-woo melamun, dia teringat perkataan Pengacara Shin waktu itu.
“Orang yang menjadi seorang pembela umum seperti kita adalah salah satu yang mencuri dan membunuh. Jadi, di banyak kasus, membela mereka adalah tidak berarti dan tidak berhasil. Tapi walaupun begitu, kita tidak bisa menghindari mengambil kasus mereka, walaupun mereka mungkin adalah kriminal yang kasar. Jadi, dalam situasi seperti itu, bagaimana kau akan membela kasusnya?”

 
Hye-sung menghampiri Kwan-woo.
Kwan-woo: “Pengacara Jang…”
Hye-sung: “Aku sudah mendengarnya. Kau mengambil kasus Min Joon-guk.”

Kwan-woo: “Itu….aku tidak punya pilihan…”
Hye-sung: “Itu bagus. Melegakan.”
Kwan-woo: “Apa?”

Hye-sung: “Aku sebenarnya khawatir jika Pengacara Shin yang akan mengambil kasusnya. Jika ia yang mengambilnya, dia tidak akan peduli dengan kerabatnya dan akan berada di pihak Min Joon-guk, sebagai pengacara ataupun itu, dan tidak percaya apa yang ku katakan, benar kan? Tapi kau berbeda Pengacara Shin, kau pasti berada di pihakku, itu benarkan?”

Mereka bertatapan, lama….
Hye-sung: “Kau percaya apa yang aku katakan, kan?”
Kwan-woo: “Ya. Aku percaya padamu.”
Hye-sung: “Terima kasih.”
Hye-sun menyandarkan kepalanya ke pundak Kwan-woo. Kwan-woo menepuk pundak Hye-sung, dan dia terlihat serba salah.
***

 Kwan-woo berada diluar kantor tahanan, mengingat kata-kata Hye-sung lagi:
“kau pasti berada di sisiku, itu benarkan?”
Kwan-woo mengangguk dan akan masuk. Lalu ada sebuah mobil ambulance keluar dari sana.
Kwan-woo duduk menunggu. Kemudian petugas datang dan memberitahukan bahwa dia tidak bisa bertemu dengan Min Joon-guk hari ini, karena beberapa saat yang lalu Joon-guk mencoba bunuh diri.


Joon-guk terbaring lemah di rumah sakit. Kwan-woo membaca surat yang ditinggalkannya:

“Aku pikir masalahnya adalah keinginanku sendiri, bahwa mantan narapidana ini ingin dimaafkan. Secepatnya setelah dibebaskan, aku ingin menemui Pengacara Jang Hye-sung dan Park Soo-ha dan meminta maaf pada mereka. Aku ingin mengatakan pada mereka bahwa aku akan hidup dengan jelas, jadi mereka tidak akan takut pada pria sepertiku lagi. 
Akan tetapi, itu dianggap sebuah ancaman dan ketakutan bagi mereka. Aku sangat ingin menunjukkan ketulusanku dengan berbagai cara. Jika cara langsung tidak berhasil, aku akan melakukannya dengan tidak langsung. 
Itulah mengapa aku pergi ke restoran bossku yang adalah ibu dari Pengacara Jang. Jika aku menunjukkan ketulusanku padanya, aku pikir mungkin bisa meraih putrinya. Beruntung, boss menerima maksudku dan memperlakukanku seperti manusia, bukan hewan. Mungkin, dalam cara yang lain, aku benar membunuhnya. Karena aku tahu dia sering terjatuh karena serangan jantungnya, aku tidak berada disisinya. Dan aku seharusnya lebih cepat menyelamatkannya, tapi aku terlmbat. 
Seperti ini….lagi…..aku menjadi seorang pembunuh. Jika aku tidak dapat menghilangkan sebutan ‘pembunuh’, aku tidak akan sedih jika aku kehilangan nyawaku sekarang. Bossku yang sudah meninggal akan mengerti isi hatiku. Satu-satunya orang yang sangat baik padaku. Mengikutinya….aku akan pergi juga.”


(Kwan-woo, please don’t believe him! He’s a lier!)

Kwan-woo terlihat bingung setelah membaca surat itu.
Perlahan-lahan Joon-guk membuka matanya. Dan berusaha untuk duduk. Kwan-woo memintanya untuk berbicara.

Kwan-woo: “Aku tidak percaya dengan surat bunuh diri ini. Ini terlihat hanya sekedar pertunjukan. Jika kau benar-benar mencoba untuk mati, kau seharusnya melakukannya pada malam hari, bukan di siang hari.”   Kwan-woo berkata dengan tegas.

Joon-guk: “Itu juga salah satu cara.”
Kwan-woo: “Aku sangat menyayangi Pengacara Jang. Jadi aku tidak punya keinginan untuk menjadi pengacaramu.”


Joon-guk: “itu tidak masalah.”
Kwan-woo berteriak: “Mengapa harus aku?! Mengapa?!”

Joon-guk: “Karena jika pengacara lain, tidak akan ada yang percaya padaku.” Joon-guk menatap Kwan-woo. “Kau, tidak berada di pihakku…jika kau menemukan kebenarannya, lalu, Pengacara Jang akan benar-benar percaya padaku.”

Joon-guk seperti menahan tangis. Mata Kwan-woo pun memerah, menahan emosinya.



Kwan-woo mendatangi tempat kejadian, restoran ibu, dia melihat-lihat dan memotretnya. Lalu Kwan-woo menemui ahjumma dan ahjussi teman ibu untuk menanyakan hubungan Min Joon-guk dengan ibu. Menemui dokter (yang ini tidak tahu dokter yang mengetahui penyakit jantung ibu, atau dokternya Joon-guk).
Kwan-woo juga ke kantor polisi untuk melihat rekaman CCTV saat Soo-ha memukuli Joon-guk di restoran.

*** 


Soo-ha memainkan pisaunya, dan dia teringat perkataan Hye-sung.

Hye-sung: “jangan berpikir untuk membalas dendam pada Min Joon-guk. Mengerti?”
Hye-sung: “Apa yang kau pikirkan? Cepat jawab.”
Soo-ha: “Tapi, bagaimana jika dia mencoba untuk membunuhmu?”

Hye-sung: “Walaupun begitu, jangan lakukan. Karena aku akan menjaga diriku sendiri.”

Soo-ha menyimpan pisaunya di dalam lemari, di bawah tumpukan baju.

Dia lalu ke kamar Hye-sung mengingatkan persidangan Joon-guk yang akan berangsung pukul 10.00. Soo-ha melihat Hye-sung memegang dan memandangi foto ibunya.

Hye-sung: “Jangan khawatir, eomma. Pengacara Cha akan berada di pihak kita sampai akhir. Aku percaya Pengacara Cha.”
Soo-ha: “Kita akan terlambat. Ayo pergi.”
Hye-sung: “Baik.”

*** 

Hye-sung dan Soo-ha sampai di depan ruang persidangan. Hye-sung tampak ragu untuk membuka pintu ruangan.

Soo-ha: “Ada apa?”
Hye-sung: “Min Joon-guk ada di dalam kan?” Hye-sung menghela nafasnya, “Ini seperti sepuluh tahun yang lalu, iya kan?”

Soo-ha merangkul Hye-sung dan membimbingnya masuk ke dalam. 


Hye-sung masuk ke dalam, dia menatap Joon-guk. Begitupun Joon-guk yang menyadari kedatangan Hye-sung, menatapnya dengan tajam.

Do-yeon: “Setelah bebas dari penjara baru-baru ini, untuk membalas dendam pada Jang Hye-sung yang memberikan kesaksian yang memberatkannya pada persidangan pembunuhan sepuluh tahun yang lalu, terdakwa menyembunyikan identitasnya dan mendekati ibu dari saksi Jang Hye-sung, Eo Choon-Shim. Terdakwa mengambil keuntungan dari korban yang tidak sadar akan adanya bahaya. Dengan memukul kepala korban dengan senjata tumpul, terdakwa memukul korban sampai meninggal, menyalakan api, dan menutupinya seperti sebuah kecelakaan. Sebagai tambahan, dia berpura-pura menyelamatkan korban dengan menggendong korban di punggunya dimana korban sudah meninggal. Semuanya ini untuk membuatnya terlihat tidak bersalah dan menutupi kejahatannya. Oleh karena itu, terdakwa Min Joon-guk dituntut berdasarkan KUHP Pasal 250 ayat 64, dengan pembakaran rumah dan pembunuhan menggunakan pembakaran rumah.”
(dengan sengaja membakar rumah padahal tahu di dalam ada orang.)


Joon-guk menatap tajam Do-yeon.
 Hakim Kim: “Pengacara, apakah kau menerima kejahatan seperti yang dituduhkan?"

Soo-ha dan Hye-sung melihat ke arah Kwan-woo. Kwan-wo melirik Joon-guk, dan kemudian menyadari ada Hye-sung disana yang menatapnya penuh harap. Soo-ha melihat pikiran Kwan-woo, dia panik, “Tidak mungkin.”
Hye-sung menoleh ke Soo-ha, “Ada apa?” Soo-ha tidak menjawab.


Kwan-woo masih menatap Hye-sung.
Hakim Kim bertanya kembali karena Kwan-woo tak kunjung menjawab: “Pengacara! Apa kau menerima kejahatan seperti yang dituduhkan?”

Kwan-woo berdiri dan menghadap hakim, “Tidak, aku menolak semua tuduhan. Terdakwa tidak bersalah.” 



Semua orang kaget terhadap pembelaan Kwan-woo bukan hanya Hye-sung tapi hakim juga. Joon-guk tersenyum sinis menatap Hye-sung.
***

Hye-sung berbicara dengan Kwan-woo setelah persidangan. Hye-sung marah, kecewa pada Kwan-woo yang ia percayai.
Hye-sung: “Apa kau gila?! Apakah sudah dipertimbangkan bahwa dia tidak bersalah?!”
Kwan-woo: “Pengacara Jang, jangan berlebihan dan dengarkan aku.”


Hye-sung berteriak: “Bagaimana bisa kau berpikir dia tidak bersalah?! Dia seseorang yang pergi menemui ibuku untuk balas dendam!”  

Kwan-woo: “Dia mengatakan dia ingin meminta maaf. Karena dia pikir kau tidak akan menerima maafnya, dia pergi menemui ibumu.”

Hye-sung: “Minta maaf? Adakah orang yang ingin meminta maaf dengan membunuh orang?!”
Kwan-woo: “Itu kecelakaan!”
Hye-sung: “Kecelakaan?! Apakah itu bahkan bisa dipertimbangkan?!”

Kwan-woo: “Tidak ada saksi yang mengatakan bahwa itu pembunuhan. Tim forensik mengatakan itu bukan pembakaran rumah yang disengaja. Itu hanya kebakaran yang disebabkan oleh uap minyak. CCTV juga tidak merekam apapun.”
(gak ngerti maksudnya kebakaran oleh uap minyak..)

Hye-sung: “CCTV tidak merekam apapun karena rusak! Apa kau melihat apa yang direkam CCTV sebelum rusak?! Itu Min Joon-guk yang pergi untuk merusaknya! Bagaimana kau menjelaskan itu?”

Kwan-woo: “Kita tidak yakin jika dia pergi merusaknya atau tidak.”
Kwan-woo memegang lengan Hye-sung. “Tenanglah dan pikirkan dengan hati-hati. Ini hanya kecelakaan buruk yang melibatkan kau dan Min Joon-guk.”

Hye-sung melapaskan tangan Kwan-woo, “Bagaimana kau akan menjelaskan patah tulang di kepala ibuku?”

Kwan-woo: “Aku mendengar dia menderita arrhythmia. Dia merasa pusing, terjatuh dan kepalanya terbentur.” (Arrhythmia = detak jantung tidak beraturan)

Soo-ha yang sedari tadi hanya mendengarkan mereka dengan gelisah, akhirnya mengatakan sesuatu yang dia tahu kebenarannya: “Itu karena Min Joon-guk memukul kepalanya. Min Joon-guk menggunakan kunci inggris dan memukul kepalanya. Dan dia menaikkan gas di penggorengan. Dan di waktu kemungkinan ibu sudah meninggal, dia masuk kedalam dan menggendong ibu untuk berpura-pura menyelamatkannya.  Dan kau, sekarang, masuk kedalam perangkapnya.”
                 

Kwan-woo: “Baik, itu mungkin terjadi seperti yang baru saja kau katakan. Tapi, sperti yang aku katakan, mungkin,  dia terjatuh dan tidak bisa mematikan gas. Dan kemudian karena kebakaran, dia mungkin meninggal karena lemas. Itu mungkin juga, kan?”

Soo-ha menatap Hye-sung yang menatap Kwan-woo.
Hye-sung: “Tolong jangan seperti ini Pengacara Cha.”

Kwan-woo: “Jika kau mempunyai keraguan bahwa dia bersalah, kau harus bisa membuktikannya pada terdakwa. Itulah hukum.”

Hye-sung masih tidak bicara, dia hanya bicara di hatinya.

Hye-sung: “Kau tidak seharusnya melakukan ini padaku.”

Kwan-woo: “Pengacara Jang, pikirkan lagi. Kau mungkin hanya salah paham terhadap Min Joon-guk.”

“Hentikan.” Kata Soo-ha pada Kwan-woo.
Soo-ha melihat Hye-sung yang masih terdiam dengan mat berkaca-kaca.
“Kau harus berada di pihakku.”

Kwan-woo berkata lagi, “Kesalahpahaman bisa menghancurkan hidup seseorang.”


Soo-ha sudah tidak tahan lagi, dia memukul perut Kwan-woo sampai Kwan-woo terjatuh kesakitan.
Soo-ha berkata pada Hye-sung yang masih diam mematung, “Hentikan. Kumohon..”

*** 
 Di kantor pengacara. Kwan-woo menelpon seseorang untuk meminjam salinan berkas persidangan sepuluh tahun yang lalu, kasus pembunuhan Park Joo-hyuk.
Yoo-chang menerima telpon yang menanyakan Hye-sung, tapi Hye-sung sedang di persidangan.

Pengacara Shin: “Pengacara Jang hari ini tidak kembali lagi ke kantor?”
Yoo-chang: “Saat persidangan selesai. Dia mengatakan akan langsung pergi dari sana.”


Pengacara Shin dan Yoo-chang melihat Kwan-woo yang menatap meja Hye-sung yang kosong.

Pengacara Shin: “Pengacara Cha, apa kau baik-baik saja?”
Kwan-woo: “Pengacara Shin, aku merasa seperti…….aku menjadi prajurit yang melindungi raja yang sangat jahat.”
***

Hye-sung sedang mengelap meja. Soo-ha datang, “Apa kau sedang bersih-bersih?”
Hye-sung: “Ya.”

Soo-ha melihat perabotan di tempat cucian, “Apa yang akan kau lakukan dengan peralatan makan itu?”
Hye-sung: “Aku akan mencucinya.”

Soo-ha: “Aku akan membantumu.”

Hye-sung: “Soo-ha, kembalilah ke rumahmu sendiri.”
Soo-ha: “Mengapa?”

Hye-sung: “Apa maksudmu dengan ‘mengapa’? Min Joon-guk sudah ditangkap dan tidak ada alasan untukmu untuk tetap disini.”

Soo-ha: “Aku tidak mau. Aku tidak akan pergi.”

Hye-sung berdiri: “Aku tidak ingin melihatmu lagi sekarang. Tidak kau ataupun Pengacara Cha. Aku bahkan ingin bertarung dengan lap ini sekarang (bersih-bersih, kan biasanya Hye-sung tidak mau). Aku ingin sendirian, jadi pergilah selama aku masih berbicara dengan baik.”
Soo-ha: “Aku tidak mau.”

Hye-sung meninggikan suaranya, “Apa kau anak kecil? Apa kau tidak mengerti? Kau tidak tahu apa yang aku katakan padamu?”
Soo-ha: “Itu benar, aku anak kecil. Anak kecil tidak mengerti apa yang kau katakan. Jadi, katakan saja. Apapun yang kau mau.”

Hye-sung berkaca-kaca: “Aku sangat membencimu dan jutaan kali membencimu sekarang ini. Karena menjadi saksi untuk kasus sepuluh tahun yang lalu, hal ini terjadi. Ini semua karenamu.”
Soo-ha diam saja.

Hye-sung: “Apa? Haruskah aku mengatakan sesuatu yang lebih kasar?”


Soo-ha juga berkaca-kaca, “Katakan. Aku akan mendengarkan semuanya.”
Soo-ha menuju tempat cucian piring, “Katakan. Kau bahkan boleh mengutukku. Aku akan mendengarkan semuanya.”

Hye-sung menatap punggung Soo-ha, menghapus air matanya dan menghampiri Soo-ha. (Harusnya peluk Soo-ha dari belakang ya, trus nangis gt, jadi romantis… ^^)

Soo-ha menuangkan minyak goreng ke gosokan cuci piring, dalam diam dia merasa aneh kenapa tidak berbusa. Hye-sung melihatnya.
“Soo-ha..”
Soo-ha: “Apa?”
Hye-sung: “Itu minyak goreng.”   (gubrak! Lagi sedih-sedih, ada yang lucu nyelip sendiri.)

Soo-ha pun mengganti dengan sabun yang sebenarnya.


Hye-sung: “Apa kau membaca pikiran hakim?”
Soo-ha: “Ya.”
Hye-sung: “Dia berada di pihak mana? Bersalah atau tidak bersalah?”

Soo-ha: “51 banding 49.”
Hye-sung: “Di pihak mana yang 51?”
Soo-ha: “Tidak bersalah.”
Hye-sung menghela nafas, dan berusaha menahan tangisnya lagi.





Note:
Menurutku wajar saja Kwan-woo percaya pada Joon-guk, selain prinsip Kwan-woo yang percaya penuh pada kliennya juga karena akting Joon-guk yang pura-pura dan memang sudah dia persiapkan baik-baik. Pencitraan yang Joon-guk lakukan menjadi relawan, ramah pada orang lain, bahkan pada ibu sampai akhirnya ibu di bunuh. Berhasil menipu semua orang. Kecuali Soo-ha, Hye-sung, dan juga Do-yeon, yang memang mengetahui siapa sebenarnya Min Joon-guk.

oya, sekali lagi maaf ya kalau bahasaku jelek, aku bikin sinopsis ini menterjemahkan sendiri dari substitle bahasa inggris, jadi mungkin agak kacau, karena keterbatasanku.
karena substitle indonesia terkadang suka lambat keluar, hari jumat/sabtu untuk episode hari rabu dan hari minggu/senin untuk episode hari kamis. Jadi, seringnya aku udah selesai bikin sinopsis pake substitle english baru ada yang indonesia.

2 komentar:

  1. Hallo. Terimakasih sinopsisnya. Maaf saya hanya membaca seluruh sinopsis tanpa meninggalkan komentar.

    BalasHapus
  2. Makasih kakak sinopsisnyaaaaa.

    BalasHapus