Kamis, 10 Oktober 2013

I HEAR YOUR VOICE Episode 18 - 1


Hye-sung dan Soo-ha berbaring bersama salam satu kasur dan saling berhadapan.
Hye-sung: “Bagaimana ibumu meninggal?”
Soo-ha: “Satu bulan setelah operasi jantung, dia meninggal. Terjadi penolakan transplantasi.”

Hye-sung: “Jadi, itukah sebabnya Min Joon-guk menjadi sangat marah, benar? Jantung yang seharusnya menyelamatkan istrinya, menghilang begitu saja seperti itu.”
Soo-ha: “Maafkan aku tidak memberitahumu. Aku menjadi semakin tamak, dan aku takut. Aku takut bahwa mungkin aku akan kehilangan dirimu.”
Hye-sung: “Apakah aku terlihat seperti seseorang yang akan membuangmu hanya karena hal semacam itu? aku sudah memberitahuku beberapa kali.”

Hye-sung dan Soo-ha: “Bahwa aku memiliki kepribadian yang lebih cemerlang daripada kebanyakan orang.”
Mereka kemudian tertawa bersama.


 Soo-ha tersenyum dan memeluk Hye-sung, “Terima kasih.”

Suara Soo-ha: “Saat itu, kami berdua melupakan sesuatu yang penting, bahwa jika Min Joon-guk ditangkap, masa lalunya yang tersembungi akan terungkap ke dunia, dan saat masa lalu itu terungkap, masa laluku yang tersembunyi juga akan terungkap.”


Last Episode
Through The Light in The Darkness, You Remain With Me


Soo-ha sedang merapikan buku-bukunya ke dalam rak.
Soo-ha: “Kapan jahitan di dahimu akan dilepaskan?”
Hye-sung: “Hari ini. Bagaimanapun, apa yang harus ku lakukan jika ini akan meninggalkan bekas luka?”
Soo-ha: “Kau bilang dokter itu seorang legendaris yan menyatukan kembali tato naga seorang anggota geng. Itu tidak akan meninggalkan bekas luka.”
Hye-sung: “Seharusnya begitu.”

Soo-ha memandangi lemari, “Ah..aku pikir aku sudah membawa semua buku. Tapi sepertinya masih ada yang tertinggal. Aku pikir aku harus kembali ke rumah.”
Hye-sung terkejut: “Kau akan membawa buku lagi?! Hey, karena buku-bukumu, tidak ada lagi tempat untukku!”
Soo-ha: “Keluarkan saja buku-buku yang tidak kau baca.”
Hye-sung: “Omong-omong, mengapa kau mengatakan kau akan melanjutkan tinggal disini? Rumahmu lebih luas dan lebih bagus daripada rumahku.”
Soo-ha: “Lalu, mengapa kau tidak tinggal bersama dirumahku saja?”



Hye-sung: “Hey, aku pikir kau lupa, tapi kita mulai tinggal bersama karena Min Joon-guk. Karena pria itu sudah di penjara, tidak ada lagi alasan untuk kita tinggal bersama.”
Soo-ha: “Ada alasan!”
Hye-sung: “Apa?”

Soo-ha mendekatkan wajahnya pada Hye-sung, seperti akan mencium. Hye-sung memundurkan badannya dan menahan badan Soo-ha agar tidak semakin dekat dengan, kakinya.
Hye-sung: “Hey, mengapa alasanmu sangat tidak wajar?”
Soo-ha cemberut, lalu mengambil bantal di belakang Hye-sung.
Soo-ha: “Ini. Ini. Alasannya.”

Hye-sung tersenyum, “Jika kau tinggal disini, mari membuat beberapa batasan. Apakah besok tes masuk akademi polisi?”
Soo-ha: “Ya..”
Hye-sung: “Bagaimana perasaanmu?”
Soo-ha: “Lihat saja besok. Tapi sekarang, aku merasa aku tidak akan lolos.”
Soo-ha masih ngambek. Hye-sung mendekat hendak melihat buku yang dipelajari Soo-ha. Soo-ha menyenggolnya hingga Hye-sung menjauh. Hye-sung tersenyum.
***

Do-yeon masuk ke dalam lift. Kemudian dari jauh ada Kwan-woo yang minta menunggunya yang akan masuk. Tapi, Do-yeon malah menekan tombol tutup pintu. Beruntungnya tangan Kwan-woo menghentikan pintu tertutup dan diapun bisa masuk.

Kwan-woo: “Terima kasih sudah menunggu.”
Do-yeon agak tidak enak hati, “Oh, terima kasih kembali.”
Kwan-woo: “Aku dengar kau menangani kasus Min Joon-guk.”
Do-yeon: “Ya.. kau tidak berencana untuk menjadi pengacaranya, kan?”
Kwan-woo: “Tidak mungkin. Aku juga seorang korban. Saat hujan, aku masih merasakan sakit di bagian tubuh ku yang terpukul olehnya.
Do-yeon: “Tentu saja, aku tidak akan menjadi pengacaranya kecuali kau gila.”



Kwan-woo: “Mungkin akan banyak tuntutan, karena dia melakukan banyak kejahatan.”
Do-yeon: “Ya. Aku akan mengatakannya padamu sekarang. Aku tidak mengasihaninya walaupun hanya sebesar kotoran semut. Aku akan menuntutnya untuk hukuman mati. Tidak pedulia apa yang akan terjadi, aku akan mendapatkan keputusan hukuman mati di persidangan.”

Lift terbuka, lalu Do-yeon pergi tanpa permisi. Dan Kwan-woo pun keluar. Sejanak dia berhenti dan mengingat pertemuannya dengan Joon-guk sebelumnya.

Flashback.
Joon-guk: “Mengapa kau kemari?”
Kwan-woo: “Ada yang ingin ku katakan. Siapapun yang akan menjadi pengacaramu, aku berharap kau tidak akan berbohong padanya.
Joon-guk: “Aku akan melakukannya jika itu bisa membuat perbedaan. Tapi, tidak akan ada yang berbeda kali ini. Bukankan hukumannya kali ini sudah jelas.”
Kwan-woo: “Jika itu yang kau pikirkan, katakan semua kebenaran yang kau sembunyikan selama ini dan akui kesalahmu. Seperti yang kau katakana, bahkan jika kamu berbohonh, tidak akan adan yang berbeda. Akui saja semua hal kau sembunyikan dan---“




Joon-guk menyela: “Jika aku mengatakan semuanya, maukah kau menjadi pengacaraku?”
Kwan-woo terkejut: “Apa?”
Joon-guk: “Jika kau menjadi pengacaraku, aku akan memikirkan untuk mengungkapkan semuanya.”
Kwan-woo kesal: “Mengapa aku lagi? Aku masih menyimpan banyak kemarahan padamu. Karena kau, tanganku patah. Karena kau, Pengacara Jjang hampir meninggal!”
Joon-guk: “Tahun lalu, dalam situasi yang sama seperti sekarang, kau berada di pihakku. Bukankan hasil persidangan sudah terlihat jelas? Aku tidak memintamu untuk merubah hasil. Tapi, sederhana saja dengarkan aku sampai akhir.”

Kwan-woo mendesah dan menatap Joon-guk yang terlihat sungguh-sungguh dengan kata-katanya.
Flashback end.
 
Kwan-woo menuruni tangga dan menatap patung keadilan dengan bimbang.
***

Hye-sung berada di rumah abu ibunya.
Hye-sung: “Ibu, kau selalu juga khawatir ini akan meninggalkan bekas luka, bukan? Aku juga. Tapi mereka mengatakan ini akan baik-baik saka karena dokternya kompeten.”

Hye-sung menempelkan tangan di kaca tempat abu, “Ibu, Min Joon-guk telah di tangkap. Karena banyak sekali bukti kali ini, dia tidak akan bisa melarikan diri.”

Hye-sung menyandarkan kepalanya, “Ibu, bagaimana perasaanmu? Apa kau merasa lega? Apa kau merasa tentram?”



Hye-sung menatap foto ibunya, “Aku berharap aku bisa mendengar sekali lagi suaramu.”

Lalu Hye-sung seakan mendengar suara ibu, “Hye-sung…”
Hye-sung menjawabnya: “Hemm..”
Ibu: “Mata untuk mata, gigi untuk gigi, jika kau hidup seperti itu, semua orang di dunia ini akan buta.”
Hye-sung: “Aku tahu.”
Ibu: “Berjanjilah padaku, jangan menjalani hidupmu dengan membenci orang lain. Saat kita dilahirkan, hampir tidak cukup waktu untuk hidup saling mencintai.”
Hye-sung: “Baiklah, aku berjanji.”
Hye-sung menyandarkan kembali kepalanya.
***

Do-yeon bertemu dengan Joon-guk untuk mengajukan beberapa pertanyaan dalam rangka penyelidikan.
Do-yeon: “Kasus pembunuhan Ibu dari Pengacara Jang tidak akan dicakup dalam persidangan kali ini. Kasus itu akan disidangkan di Pengadilan Tinggi secara terpisah, karena aku sudah mengajukan petisi untuk banding sejak setahun lalu, dan mengajukan penundaan untuk waktu persidangannya.”
Joon-guk mengangguk, “Ya.”

Do-yeon: “Lalu, bisakah kita lanjutkan? Tahun lalu, dihari pembebasanmu, kau menghubungi Pengacara Jang Hye-sung dan Park Soo-ha untuk datang ke gedung parker, benar?”
Joon-guk: “Aku menghubungi Park Soo-ha, tapi Pengacara Jang Hye-sung datang atas kemauannya sendiri.”
Do-yeon: “Jadi, di geung parker, kau hanya berencana untuk menyingkirkan Park Soo-ha, benar?”
Joon-guk: “Ya.”
Do-yeon: “Tapi, Pengacara Jang Hye-sung datang, dan kau menusuknua terlebih dulu?”
Joon-guk: “Tidak. Bukan aku yang menusuk Pengacara Jang Hye-sung.”
Do-yeon: “Lalu siapa yang menusuknya?”
Joon-guk: “Park  Soo-ha.”

Do-yeon tertawa tak percaya, “Apakah kau berbohong lagi sekarang?”
Joon-guk: “Akankah ada perubahan bahkan jika aku membantahnya? Aku hanya mengatakan kebenaran. Aku memang menusuk Park Soo-ha, tapi orang yang menusuk Pengacara Jang Hye-sung adalah Park Soo-ha.”
Do-yeon sangat jelas sekali terkejut dan tak mengira.
Sementara itu, Park  Soo-ha sedang mengikuti Ujian tertulis untuk masuk akademi polisi.
***
Hakim Kim sedang makan bersama dengan dua rekan hakimnya. Hakim Kim memgangi kepala, tepatnya menjambak rambutnya sendiri.
Hakim Kim: “Ini membuatku gila! Mengapa Min Joon-guk memilih Pengacara Cha lagu untuk menjadi pengacaranya?”
Hakim ganteng: “Itu sesuatu yang benar-benar tidak boleh dilakukan. Pengacara Cha juga adalah korban dari kejahatan Min Joon-guk. Apakah itu mungkin untuk seorang korban membela terdakwa?”

Hakim Kim: “Apakah itu tidak mungkin?”
Hakim Kacamata: “Tentu saja tidak. Buat saja Pengacara Shin untuk melakukannya.”
Hakim Kim: “Pengacara Shin juga meminta untuk tidak ditugaskan dalam kasus ini, jika memungkinkan. Lagipula, Pengacara Cha adalah orang yang paling diinginkan para terdakwa. Jika kita memberikan ini pada Pengacara Cha lagi, ini akan terlihat sebagai tindakan yang tidak tahu malu, bukan?”
Hakim ganteng dan Hakim kacamata dengan tegas berkata: “Ya.”

Hakim Kim: “Baiklah.. Alaminya, sangat tidak mungkin membuat korban menbela terdakwa. Tentu saja!”
Hakim Kim ini tampaknya ingin meminta Kwan-woo untuk menjadi pengacara Joon-guk lagi, tapi dia agak tidak nyaman untuk memintanya.
Kwan-woo datang dan duduk di samping Hakim Kim.
Kwan-woo: “Alasan itu tidak bisa digunakan. Aku tidak yakin tentang hakim, tapi seorang pengacara tidak dikeluarkan untuk alasan semacam itu.”
Hakim ganteng: “Pengacara Cha, apakah kau sungguh berpikir untuk menjadi pengacara Min Joon-guk?”
Kwan-woo bertanya pada Hakim Kim: “Apa yang harus ku lakukan?”

Hakim Kim menghela nafas: “Aku akan sangat berterima kasih jika kau membelanya. Terdakwa mengingikanmu menjadi pengacaranya. Dan, pembela umum lain tidak ada yang mau mengambil kasus ini. Tapi, aku bukan orang yang tidak tahu malu, jadi aku tidak bisa memintanya padamu.”
Hakim Kim pada rekan hakimnya: “Tentu saja, aku akan sangat berterima kasih jika dia melakukannya. Tapi aku tidak akan meminta padanya. Kenapa?! Karena aku orang yang punya perasaan!”

Kwan-woo melamun ketika Hakim Kim berbicara tadi, lalu dia berkata: “Aku akan melakukannya. Aku akan menjadi pengacara Min Joon-guk.”
Hakim ganteng dan Hakim kacamata tampak terkejut. Hakim Kim juga, tapi Hakim Kim terlihat senang dengan keputusan Kwan-woo.

Hakim Kim: “Benarkah? Kau tidak perlu melakukannya. Mengapa kau mau melakukannya? Kau membuatku tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi.”
Hakim Kim menyenggol Kwan-woo yang tersenyum tipis. Belum yakin dengan keputusannya itu.
***


Di kantor pengacara.
“Apa kau gila?!” Tanya Yoo-chang setengah berteriak. “Aku menyukaimu, tapi ini tidak benar. Akibat dari kejadian setahun yang lalu, suasana di kantor kita menjadi sangat muram. Dan aku sangat membenci suasana muram itu.”
Pengacara Shin: “Ya. Ini tidak benar, Pengacara Cha. Aku juga tidak mau menerima kasus Min Joon-guk, tapi tidak seburuk kau yang tidak menginginkannya. Aku akan mengambil kasus Min Joon-guk.”

Kwan-woo: “Aku pikir aku harus mengambil kasus ini. Min joon-guk ingin aku melakukan ini untuknya.”
Yoo-chang merajuk: “Pengacara Cha…”
Pengacara Shin: “Jika demikian, bagaimana kau bisa menghadapi Pengacara Jang setelah ini?”
Yoo-chang menyela lagi dan berkata dengan berapi-api: “Tentu tidak. Aku percaya bahwa ini bukan sesuatu yang bisa kita lakukan pada Pengacara Jang. Pasti, tidak akan mungkin!”

Ternyata orang yang sedang dibicarakan ada di ruangan itu juga.
Hye-sung menggigiti kukunya, lalu melambaikan tangan, “Lihat kesini. Aku ada disini. Kenapa kalian semua berbicara seolah-olah aku tidak ada disini?”
Yoo-chang: “Ah tidak. Aku hanya ingin membuatnya untuk mengerti dimana posisiku, dalam situasi ini. Aku berada di pihakmu.”
Kwan-woo memandang Hye-sung dengan wajah yang tidak nyaman.
Hye-sung: “Benarkah? Lalu, jika kau berada di pihakku, berpihak juga pada Pengacara Cha. Karena aku ada di pihaknya.”

Yoo-chang terkejut, “Apa?”
Pengacara Shin juga terkejut dan menegakan badannya.
Kwan-woo lebih terkejut lagi, “Pengacara Jang..”
Hye-sung: “Dalam situasi ini, apakah ada lagi yang memiliki waktu yang sangat sulit selain Pengacara Cha? Tidak ada, kan? Maka, aku tidak berpikir kita berada pada posisi untuk bisa mengatakan apapun.”

Yoo-chang merajuk, menghentak-hentakan kakinya. Kwan-woo tersenyum pada Hye-sung yang ternyata mengerti posisinya. Dan Pengacara Shin juga tersenyum menyadari kebesaran hati Hye-sung. Sedangkan Hye-sung hanya melanjutkan pekerjaanya kembali.
***


Kwan-woo menyapa Hye-sung yang baru saja keluar dari toilet.
Hye-sung: “Jangan mengatakan apapun seperti ‘terima kasih karena mengerti aku’, karena aku tidak berada di pihakmu dengan tujuan yang baik.”
Kwan-woo: “Bukan itu, tapi rokmu terbalik.”

Kwan-woo tersenyum sambil menunjuk rok Hye-sung. Hye-sung kemudian membalikannya kembali dan hendak pergi, tapi Kwan-woo menahan tangannya.
Kwan-woo: “Aku…tidak akan membuat kesalahan yang sama dengan yang terakhir kali. Aku mengambilnya karena Min Joon-guk mengatakan dia akan mengungkap semua kebenaran termasuk semua kejadian dari setahun yang lalu.”

Hye-sung: “Jadi karena itu. Maka kau harunya mengatakannya.” (pada Pengacara Shin dan Yoo-chang juga)
Kwan-woo: “Kau berada di pihakku, padahal kau tidak tahu alasan sebenarnya?’
Hye-sung: “Itu karena…”
Kwan-woo tersenyum: “Terima kasih karena telah mengerti aku.”
Hye-sung pun tersenyum.
***

Hye-sung melihat jahitan lukanya di kening di cermin.
Hye-sung: “Ah, aku pikir sepertinya ini akan meninggalkan bekas luka.”

Soo-ha yang berasa di sampingnya ikut melihat jahitan luka itu.
Soo-ha: “Aku pikir itu akan menghilang kemudian. Dan juga, itu tidak akan terlihat jika kau menaruh rambutmu seperti ini.” Soo-ha menurunkan poni Hye-sung menutupi lukanya.
Hye-sung: “Lalu, haruskah aku menggunakan jepit rambut yang mencolok disini? Itu akan mengalihkan perhatian orang yang melihatnya.” Hye-sung menunjuk rambutnya di bagian sebelah.
Soo-ha tersenyum lalu teringat sesuatu yang akan di berikan pada Hye-sung. Soo-ha masuk kamarnya dan mengambil kotak kalung itu sambil terus tersenyum.


Soo-ha memberikan kotak itu pada Hye-sung yang masih sibuk bercermin, “Apa ini?”
Hye-sung pun perlahan membuka kotak itu. Soo-ha di sampingnya terus tersenyum. Ada kebanggaan dan kebahagian terpancar di wajahnya, karena bisa memberikan sesuatu yang sangat di inginkan oleh orang yang dia cintai.
Hye-sung melihat isi kotak itu, yang ternyata kalung yang dia inginkan waktu itu.

Hye-sung: “Hey, bagaimana kau—“
Soo-ha: “Aku membaca pikiranmu waktu itu. Kau menginginkannya.”

Di luar dugaan, Hye-sung malah memukuli Soo-ha, “Kau gila, gila. Apa kau tahu betapa mahalnya barang ini. Cepat kembalikan. Kau punya bonnya kan?”
Soo-ha: “Aku tidak mau. Mengapa aku harus mengembalikannya, itu adalah barang yang aku hadiahkan?”
Hye-sung membungkus kembali kalungya: “Kau tidak memiliki banyak uang. Aku hanya menerima perhatianmu. Aku sangat berterima kasih. Itu tidak apa-apa, jadi jangan pernah membeli barang seperti ini lagi.”

Soo-ha membaca pikiran Hye-sung: “Mengapa dia seperti ini dan membuatku merasa terbebani. Aku pikir, aku harus hati-hati dengan apa yang aku inginkan juga.”

Soo-ha: “Bagimu, aku masih seperti anak kecil, kan? Kecil, belum dewasa, dan membuatmu khawatir. Benar?”
Hye-sung : “Apa kau marah?”
Soo-ha tersenyum, “Tidak. Aku hanya merasa bersalah padamu. Aku akan mengembalikannya. Jangan khawatir.”
Hye-sung: “Baik. Terima kasih.”
Soo-ha tersenyum. Hye-sung yang merasa tidak enak menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mengambil satu buku dan membacanya.

Soo-ha termenung, mengingat perkataan Hye-sung:
“Disamping itu, ada lebih banyak alasan mengapa kita tidak bisa bersama. Jadi, itulah mengapa aku berpikir aku perlu menghapusnya suatu hari nanti.”
“Aku tidak bisa terus menggunakan kemampuanmu selama persidangan, karena aku seorang pengacara. Aku akan melakukannya sendiri hari ini.”
“Ini masalah besar. Aku tidak bisa terus bergantung padamu seperti ini.”
Soo-ha lalu memandangi Hye-sung.
***
Seo Do-yeon memasuki kantornya.
Kepala Jang memanggilnya, “Jaksa Seo. Mereka mengatakan bahwa Pengacara Cha adalah pengacara Min Joon-guk.”
Do-yeon sangat terkejut, “Benarkah?! Dia gila. Orang itu gila.”
Kepala Jang: “Aku tahu. Apakah dia tidak mempunyai opini sendiri atau dia hanya ingin bertipu muslihat lagi.”
Do-yeon: “Kali ini aku  tidak akan sabar menghadapi semuanya. Aku hanya akan terus menjatuhkan mereka.”

Nona sekertaris (lupa namanya) memberitahu Do-yeon kalau Pengacara Cha mencarinya dari telpon masuk.
Do-yeon: “Katakan padanya aku tidak ada. Telpon darinya tidak di perkenankan mulai dari sekarang.”
Nona sekertaris kembali berbicara pada Kwan-woo, lalu berkata pada Do-yeon: “Dia mengatakan dia mendengar semuanya.”
Do-yeon langsung merebut telpon dan menutupnya, “Jangan pernah menerima telpon darinya lagi.”

Do-yeon menuju ruangannya, lalu di tahan oleh Kepala Jang.
Kepala Jang: “Jaksa Seo. Apa yang harus kita lakukan mengenai Park Soo-ha? Kita telah mengirimkan surat panggilan.”
Do-yeon: “Apa maksudmu dengan ‘apa yang karus kita lakukan. Kita tidak bisa mengabaikannya karena itu sudah diketahui (kebenarannya).”
***
Soo-ha membuka loker surat miliknya di gedung apartemennya. Ada sebuah surat dari kejaksaan.
Soo-ha: “Mengapa jaksa mengirim surat padaku?”
Dalam surat itu tertulis: Surat panggilan untuk terdakwa (Terdakwa: Park Soo-ha/ Perihal: Percobaan pembunuhan)

Soo-ha sangat kaget. Dia sampai membelalakan matanya dan menjatuhkan tasnya.



Sementara itu, Kwan-woo berjalan dengan cepat menuju kantor dan terlihat cemas.
Kwan-woo: “Pengacara Jang, sesuatu yang buruk terjadi.”
Hye-sung: “Apa?”
Kwan-woo: “Park Soo-ha telah di panggil. Untuk percobaan pembunuhan.”
Hye-sung langsung berdiri dari duduknya, “Apa yang kau katakana? Percobaan pembunuhan?”
Kwan-woo: “Aku tidak tahu apa yang salah. Apakah Park Soo-ha yang menikammu di gedung parker setahun yang lalu, dan bukan Min Joon-guk?”

Hye-sung lemas, dia kembali duduk. Tersirat kecemasan dan kesedihan di wajahnya.
Kwan-woo: “Apakah aku benar?”
Hye-sung: “Bagaimana kau--?”
Kwan-woo: “Jaksa Seo pasti mengetahuinya saat menginterogasi Min Joon-guk. Apakah benar Park Soo-ha yang menikammu?”

Hye-sung: “a..ah, aku menghalanginya. Soo-ha benar-benar tidak tahu itu aku. Tapi bagaimana ini menjadi percobaan pembunuhan? Dan, kapan ini menjadi sangat jauh. Ini tidak boleh terjadi padanya sekarang. Soo-ha—“
Hye-sung memegang kepalanya, “Apa yang harus kita lakukan?”
Hye-sung lalu mengambil tasnya dan berlari keluar kantor. Kwan-woo berusaha mengejarnya.
***

Soo-ha di rumah sedang duduk dan membaca kembali surat itu. Dia diharuskan datang ke ruangan jaksa.
Soo-ha juga mengingat saat dia menyerang Min Joon-guk di parkiran, dan dia tanpa sengaja menikam Hye-sung yang menghalanginya.

Hye-sung tiba di rumah, “Soo-ha. Apa itu? Apakah itu surat panggilan?”
Soo-ha akan memasukan surat itu kembali ke ampopnya, “Kau sudah mendengarnya?”
Hye-sung merebut surat itu dan membacanya.


Hye-sung: “Ini bukan apa-apa. Kau hanya perlu datang dan mengatakan tidak. Kau hanya perlu mengatakan bahwa kau tidak menikamku, tapi Min Joon-guk yang melakukannya. Disana tidak ada CCTV. Karena kau dan aku mengatakan hal yang sama, semuanya akan berakhir. Kita bisa mengatakan bahwa Min Joon-guk berbohong.”
Soo-ha berdiri dan menghadap Hye-sung: “Tidak. Itu tidak benar.”

Hye-sung: “Walaupun begitu, kita bisa. Aku datang karena aku tahu kau akan berpikir seperti itu. Aku akan menemui Seo Do-yeon besok dan akan berbicara dengannya. Apa yang akan mereka lakukan jika aku bersikeras? Jangan khawatir, aku bisa melakukannya.”
Soo-ha: “Aku tahu bahwa kau bisa melakukannya. Tapi, aku juga tahu itu sesuatu yang tidak seharusnya kau lakukan.”
Hye-sung sudah akan menangis, “Soo-ha…”



Soo-ha menggenggam tangan Hye-sung, “Kali ini berbeda dengan persidangan terakhir. Aku mengingat dengan jelas apa yang aku lakukan. Aku tidak bisa berbohong. Aku menikammu dengan pisau. Itu tidak bisa di tutupi dengan apapun.”

Hye-sung: “Tolong dengarkan aku. Jika kau di tuntut dengan percobaan pembunuhan, itu tidak akn berguna walaupun aku mengajukan damai. Kau pasti akan menerima hukuman penjara. Lalu kau akan memiliki catatan kejahatan. Akademi polisi dan semuanya akan menghilang. Masa depanmu akan hancur.”

Hye-sung menangis, Soo-ha hanya tersenyum, “Aku sudah mempersiapkan diri. Tidak apa-apa, aku bisa menemukan jalan yang berbeda.”
Hye-sung kesal dan menghentakan kakinya, “Kau bodoh, mengapa kau tidak menedengarkan ku. Kau tidak perlu menjadi seperti ini. Mengingat bagaimana kita menjadi seperti ini. Kita bisa berbohong tentang itu. Hanya kali ini saja. Kau benar-benar bisa melakukannya.”

Soo-ha menggeleng, “Tidak, aku tidak bisa melakukannya.”
Soo-ha akan menghapus air mata di wajah Hye-sung. Tapi Hye-sung menghindar dan masuk ke kamarnya. Soo-ha hanya bisa memandanginya.
***


Do-yeon berada di parkiran. Lalu Kwan-woo memanggilnnya.
Do-yeon yang melihatat Kwan-woo berlari menghampirinya, dengan cepat masuk ke dalam mobil.
Kwan-woo: “Jaksa Seo! Mari kita bicara!”
Kwan-woo menggedor-gedor pintu mobil Do-yeon.

Mobil Do-yeon melaju, Kwan-woo berteriak, “Hey, Seo Do-yeon!”
Mobil Do-yeon berhenti.
Kwan-woo tersenyum, “Kau berhenti.”
Do-yeon di dalam mobil, “Apa? ‘Hey, Seo Do-yeon’?!”

Do-yeon kesal dipanggil seperti itu. Saat Kwan-woo mendekat dan mengetok pintu mobil, Do-yeon melajukan mobilnya dengan kencang.
Kwan-woo jelas kesal sekali, merasa dipermainkan.
***

Pagi hari. Soo-ha bersiap-siap akan pergi. Dia melihat kembali surat  panggilan itu. Lalu melihat buku persiapannya untuk tes masuk  akademi, dan melihat kembali note penyemangat yang dia tulis sendiri.

Soo-ha berdiri di depan kamar Hye-sung yang sedang termenung di tempat tidur.
Soo-ha: “Aku pergi ke kantor kejaksaan. Maafkan aku, aku tidak mendengarkan apa yang kau katakan.

Hye-sung bangun.
Soo-ha: “Sebelumnya, kau bertanya apa yang aku mimpikan waktu itu, kan?”
Hye-sung berdiri menuju pintu.
Soo-ha: “Dalam mimpiku, kau tertusuk seperti waktu itu. Dan darah dimana-mana. Aku pikir itu sebuah peringatan, untuk tidak melupakan hari itu. Aku di hokum karena aku mengabaikan peringatan.”



Hye-sung menggapai engsel pintu, tapi tidak jadi membukanya.
Soo-ha: “Aku…akan mengatakan pada mereka semua kebenarannya dan kembali. Maka, aku tidak akan bermimpi seperti itu lagi.”
Soo-ha menempelkan tangannya di pintu, “Sebelum aku pergi, bisakah aku mengajukan sebuah permintaan?”
Hye-sung tidak menjawab.
Soo-ha: “Hanya jika…aku…jika aku berakhir dengan harus pergi dari sisimu, bisakah kau menungguku?”

Hye-sung tidak menjawab dan menangis dalam diam. Soo-ha menunggu jawaban Hye-sung dan menempelkan kedua tangannnya di pintu.
***

Kwan-woo menunggu Do-yeon di jalan. Kwan-woo melihatnya dan memanggilnya. Do-yeon yang menyadari Kwan-woo memanggilnya berlari. Mereka berkejaran.
Do-yeon menuju pintu masuk gedung, saat di tengah, Kwan-woo berhasil menahan pintunya, dan ternyata ada Hakim Kim yang ikut terjebak.
Do-yeon berusaha mendorong pintu, dan sebaliknya Kwan-woo terus menahannya.


Kwan-woo: “Jaksa Seo, mari bicara.”
Do-yeon: “Tidak ada yang ingin aku katakan padamu.” Do-yeon mendorong pintunya kembali.
Kwan-woo: “Maka, ayo bicara disini.”

Hakim Kim memohon pada mereka: “Tolong keluarkan aku!” tapi tidak ada yang peduli dengannya.

Do-yeon: “Aku sama sekali tidak mempunyai simpati sedikitpun untuk Min Joon-guk! Aku tidak berpikir ada hal yang bisa menguranginya sedikitpun!”
Kwan-woo: “Aku tidak datang untuk berbicara mengenai Min Joon-guk. Aku disini untuk berbicara mengenai Park Soo-ha.”
Do-yeon menoleh dan terdiam.
Hakim Kim kembali menarik perhatian dan mengetok pintu, “Semuanya…”
***

Hye-sung masuk ke dalam kamar Soo-ha. Dia melihat-lihat catatan dan buku Soo-ha. Dia lalu melihat sesuatu terselip di tumpukan buku.
Hye-sung: “Apa ini? Ini seperti buku catatanku. Mengapa ini…..”

Hye-sung pun membuka diary itu, dan mulai membacanya, “Ini adalah hari sebelum persidangan akhir Min Joon-guk. Walaupun aku menghilang…”

Suara Soo-ha: “Walaupun aku menghilang, aku berharap kau tidak akan tahu. Aku berharap kau akan berpikir bahwa aku hidup dengan baik di suatu tempat.”
(ini adalah diary yang Soo-ha tulis di sekolah, yang Seong-bin begitu penasaran ;p
mengintip dari lantai atas.)


Sementara Soo-ha duduk di tangga, tempat dia menunggu Hye-sung waktu itu (saat Hye-sung berjongkok dan Soo-ha memayunginya).
Ada sms masuk: “Tuan Park Soo-ha, anda lulus dalam ujian tahap awal. Tolong konfirmasi kehadiran untuk tahap berikutnya.”

Mata Soo-ha memerah, dia merenungkan dan memikirkan banyak hal. Apa yang akan terjadi jika dia akhirnya akan di penjara.

Terdengar kembali suara Soo-ha (isi diary yang di baca Hye-sung):
“Belajar dengan keras dan berhubungan dengan teman, dan melanjutkan mimpi untuk menjadi seorang polisi. Aku ingin kau memikirkan aku hidup bahagia seperti itu. Bahkan saat aku tak ada disini…aku akan senang jika kau tidak akan menangis. Dan aku akan sangat bahagia jika kau juga bahagia. Dan adakalanya, hanya beberapa saat, aku akan menyukainya jika kau mengingatku.”



Soo-ha menangis, tidak hanya meneteskan air mata, tapi dia menangis.
Hye-sung pun tak dapat menahan tangisnya setelah membaca curahatan hati Soo-ha. Menyadari betapa Soo-ha sangat mencintainya, dan ingin melihatnya hidup bahagia tak peduli apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.
***


Kwan-woo masih berada di pintu berusaha meyakinkan Do-yeon mengenai Park Soo-ha.
Kwan-woo: “Memanggil Park Soo-ha untuk percobaan pembunuhan, apakah itu mungkin? Apa kau lupa dengan semua kejadian malam itu?”
Do-yeon: “Aku juga menyesal. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika memang itu kebenarannya? Hari itu, orang yang menikam Jang Hye-sung adalah Park Soo-ha.”
Kwan-woo: “Itu hanya kecelakaan saat mencoba menyelamatkan Pengacara Jang. Itulah mengapa Pengacara Jang juga menyembunyikan kejadian itu.”
Do-yeon: “Kesalahan adalah kesalahan. Bahkan aku melihat kesalahan disini, apa kau mau aku mengacuhkannya? Apakah itu sesuatu yang bisa kau katakana pada seorang jaksa?”

Kwan-woo: “Lalu mengapa kau berpikir bahwa kesalahan? Apakah kau, aku, dan Hakim Kim. Kita bertiga melakukan kesalahan?”
Hakim Kim tidak terima namanya di sebut-sebut dalam perdebatan mereka, “Mengapa aku?!”

Kwan-woo melanjutkan: “Jika aku tidak ditipu oleh Min Joon-guk setahun yang lalu, jika kau tidak membuat saksi memalsukan kesaksiannya, dan jika hakim bisa melihat lebih tajam. Park Soo-ha tidak akan melakukan hal semacam itu. Soo-ha adalah orang yang membuat kita kembali lurus. Orang yang berperan banyak dalam menangkap Min Joon-guk adalah Park Soo-ha. Mengapa kau tidak menyadarinya?! Bagaimana dengan kompensasi? Siapa yang akan memberikan kompensasi pada Soo-ha untuk kehancuran yang dia terima dari persidangan itu? Tanpa menyadari semua kebaikan yang telah dilakukannya, atau memberikan kompensasi padanya, apakah adil hanya membicarakan kesalahannya? Apakah itu yang kau pertimbangkan sebagai hukum?!”

Do-yeon tersulut emosinya, “Ya. Itu hukum. Hukum di atas segalanya pasti kejam.”

Hakim Kim mengetok kaca pintu kembali: “Ayo lepaskan ini. Aku sedikit sibuk..”
Kwan-woo akhinya melepaskan pintu itu, setelah merasa dia sudah cukup mengungkapkan semuanya. Kwan-woo menghela nafas.


Do-yeon yang marah pun langsung pergi dari sana. Tapi, ternyata Hakim Kim mengikutinya.
Hakim Kim memanggil  Do-yeon: “Jaksa Seo, Jaksa Seo!”
Do-yeon: “Apa? Apa lagi sekarang?!”
Do-yeon menjawab dengan kesal, sedangkan Hakim Kim malah tersenyum.
***

Soo-ha sampai di depan gedung kejaksaan. Dia memejamkan matanya dan memantapkan hatinya memasuki gedung.
***
Sementara Do-yeon di ruangannya sedang mempelajari laporan kejadian di gedung parker setahun yang lalu. Do-yeon membaca berkasnya.
“Terdakwa yang ingin membalas dendam pada Jang Hye-sung karena kesaksiannya sebelumnya, dan berencana untuk membunuh Jang Hye-sung, orang yang berusaha untuk melindunginya adalah Park Soo-ha. Dia mencoba membunuh korban, Park Sooha dengan menusuknya di belakang. Akan tetapi, seorang saksi yang mengikuti korban mucul. Jadi, dia tidak bisa memenuhi tujuannya, dan misinya berakhir dengan kegagalan.”

Do-yeon kemudian tampak berpikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar