Kamis, 10 Oktober 2013

I HEAR YOUR VOICE Episode 18 - 2


Do-yeon menginterogasi Soo-ha.
Do-yeon: “Karena ini interogasi, aku akan menggunakan bahasa resmi, Tuan Park Soo-ha.”
Soo-ha: “Ya.”
Do-yeon: “Berapa panjang pisau yang menusuk Jang Hye-sung?”
Soo-ha: “Sekitar 15 cm.”
Do-yeon: “Di bagian mana kau menusuknya?”
Soo-ha: “Sebelah kiri pinggangnya…”

Do-yeon kemudian teringat percakapannya dengan Hakim Kim.


Flashback.
Hakim Kim memanggil  Do-yeon: “Jaksa Seo, Jaksa Seo!”
Do-yeon: “Apa? Apa lagi sekarang?!”
Do-yeon menjawab dengan kesal, sedangkan Hakim Kim malah tersenyum.

Hakim Kim: “Aku percaya bahwa hukum harus kuat, seperti yang kau katakan. Tapi, seperti yang Pengacara Cha katakana, aku percaya bahwa hukum juga harus memiliki hati. Aku rasa kau juga pasti memikirkan apa yang dikatakan Pengacara Cha. Aku benar kan?”
Do-yeon: “Tidak. Tidak sama sekali.”
Hakim Kim: “Benarkah? Aku rasa kau menunjukan pendangan itu selama kasus Hwang Dal-joong.”
Flasback end.



Do-yeon: “Apakah kau menikam Jang Hye-sung untuk membunuhnya?”
Soo-ha: “Tidak, tidak akan pernah. Aku mencoba untuk mendapatkan Min Joon-guk—“
Do-yeon langsung menyela,”Stop!”

Lalu Soo-ha membaca pikiran Do-yeon: “Apakah mereka mendengar? Ini berbahaya jika dia menyebut Min Joon-guk. Itu akan mengarah pada percobaan pembunuhan terhadap Min Joon-guk, bukan Jang Hye-sung. Aku harus memotongnya disini.”
Soo-ha sedikit bingung.

Do-yeon: “Aku melihat bahwa itu tidak bisa dipertimbangkan sebagai percobaan pembunuhan setelah aku mendengar penjelasanmu.”
Soo-ha tidak mengerti, “apa?”
Do-yeon berkata sambil mengawasi dua staffnya, “Kau tidak disana untuk membunuh. Dan juga, pisaunya terlalu pendek untuk bisa membunuh seseorang. Bagian yang tertusuk juga bukan daerah vital. Daripada percobaan pembunuhan, aku akan mengurangi tuntutan menjadi kepemilikan senjata secara illegal.”

Di belakang Soo-ha staff Do-yeon berbisik-bisik.
Ketua Jang: “Kepemilikan senjata hanya dikenakan masa percobaan yang mudah. Jaksa Seo pasti mengasihani Park Soo-ha.”
Sekertaris: “Aku kira juga begitu.”
Mereka tersenyum.

Do-yeon: “Korban, Jang Hye-sung, tidak menginginkan hukuman apapun menimpamu, kan?”
Soo-ha: “Ya..”
Do-yeon tersenyum.
***

Kwan-woo melihat Soo-ha yang akan keluar dari gedung. Dia pun menghampirinya.
Kwan-woo: “Oh, Park Soo-ha. Apakah  kau baru bertemu dengan Jaksa Seo Do-yeon?”
Soo-ha: “Ya.”
Kwan-woo ngomel: “Ah, telinga Jaksa Seo memang terhalang. Jangan khawatir, aku akan melubangi telinganya. Ini tidak mungkin membuatnya menjadi percobaan pembunuhan.”


Kwan-woo akan pergi, tapi di tahan tangannya oleh Soo-ha.
Soo-ha: “Aku mendapatkan pembatalan penuntutan.”
Kwan-woo terkejut: “Apa? Dia merubah dari percobaan pembunuhan menjadi pembatalan penuntutan?”
Soo-ha: “Tidak. Dia meringankan tuntutan menjadi kepemilikan senjata dan memberikan ku pembatalan penuntutan.”

Kwan-woo tersenyum: “Ah, aku mengerti. Melegakan sekali. Ah, telinga Jaksa Seo sudah terbuka.”
Soo-ha: “Terima kasih.”
Kwan-woo: “Untuk apa?’
Soo-ha: “Untuk semuanya. Aku tahu seberapa besar kau menyukai Pengacara Jang. Aku juga tahu bahwa kau berusaha sangat keras untukku karena Pengacara Jang. Aku juga mengakui bahwa kau seseorang yang sangat hebat yang tidak bisa aku tandingi. Kau seseorang yang hebat dan aku merasa menyesal bahwa Pengacara Jang memilihku.”



Kwan-woo: “Apa yang sedang kau lakukan? Kau membuatku merinding.”
Soo-ha: “Aku akan menjadi yang terbaik untuk Pengacara Jang. Aku akan menghargainya hingga dia tidak akan menyesal telah memilihku.”
Kwan-woo: “Apa ini? Mengapa aku mendengarnya sebagai peringatan? Apa kau mengatakannya untuk menjaga jarak dengan Pengacara Jang?”
Soo-ha: “Jika kau menganggapnya begitu, aku akan sangat berterima kasih.”
Soo-ha membungkuk pada Kwan-woo. Lalu pergi dengan senyuman.
Kwan-woo juga tersenyum memandang kepergian Soo-ha.
***


Hye-sung duduk di teras rumah, sambil memegang boneka dari Soo-ha dan membuka diarynya. Soo-ha yang sedang berjalan menuju rumah melihatnya. Soo-ha melihat Hye-sung yang akan menangis. Dia segera berlari akan menghampiri Hye-sung. Hye-sung yang juga melihat Soo-ha pun berlari menyongsong Soo-ha.
Meraka bertemu di bawah tangga. Hye-sung langsung memeluk Soo-ha.



Hye-sung: “Soo-ha, Soo-ha…”
Soo-ha: “Ada apa ini? Mengapa kau menangis?”

Hye-sung: “Maafkan aku, Soo-ha. Aku minta maaf selalu bergantung padamu, tapi aku berpura-pura tidak membutuhkanmu. Aku mencintaimu lebih dari siapapun, tapi maafkan aku karena aku tidak menunjukannya. Aku memperhatikanmu dan hanya memikirkan akhirnya. Dan juga karena aku menjadi gugup. Maafkan aku, aku minta maaf untuk semuanya. “
Soo-ha tersenyum dan mengeratkan pelukannya.

Hye-sung masih menangis: “Kau tidak akan pernah masuk penjara. Aku akan menggunakan seluruh kemampuanku sebagai seorang pengacara dan mendapatkan keputusan tidak bersalah untukmu. Dan juga, jika…. Jika kau akhirnya pergi, jangan khawatir. Aku akan menunggumu.”
Soo-ha: “Aku tidak akan masuk penjara.”

Hye-sung terkejut dan melepaskan pelukannya, “Apa?”
Soo-ha: “Jaksa Seo memberikanku pembatalan penuntutan. Dia mengatakan aku tidak akan dipanggil ke pengadilan lagi.”
Hye-sung: “Pembatalan penuntutan? Do-yeon? Kenapa?”
Soo-ha: “Sepertinya Pengacara Cha meyakinkannya.”
Hye-sung memeluk Soo-ha lagi: “Benarkah? Melegakan. Benar-benar melegakan.”

Lalu, dia tersadar: “Aish, aku bertindak berlebihan tanpa alasan. Sangat memalukan.”



Hye-sung mengusap air matanya, “Hey, berpura-puralah bahwa kau tidak mendengar apa yang aku katakan tadi. Aku pikir aku bertindak berlebihan karena perasanku sedang campur aduk. Sekalipun…itu tidak berarti apa yang aku katakan tidak benar. Itu hanya sedikit berlebihan.”
Hye-sung melihat Soo-ha yang senyum-senyum padanya, “Ah, memalukan, memalukan, sangat memalukan.”

Hye-sung beranjak pergi dari sana, Soo-ha menahannya. Soo-ha melihat Hye-sung memakai kalung pemberiannya. Hye-sung memalingkan wajahnya dari Soo-ha.
Soo-ha: “Katakan padaku. Hal yang kau sesali karena tidak mengatakannya.”
Hye-sung: “Itu..aku tidak berada dalam pikiran yang benar untuk sesaat, jadi—“

Hye-sung melihat Soo-ha, dia mengatupkan bibirnya, dan bergumam, “Saranghe..”
Soo-ha: “Apa? Aku tidak bisa mendengarnya.”
Hye-sung menutup matanya, “Oke, saranghanta. Saranghanta-gu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Oke?”


Soo-ha tersenyum dan mengacup bibir Soo-ha. Lalu Soo-ha merangkul Hye-sung. Hye-sung pun membalas rangkulannya dan tersenyum.
Soo-ha mencium kening Hye-sung, mengecup bibirnya lagi. Menatap dalam Hye-sung, dan mereka berciuman.

Suara Soo-ha: “Aku tahu mengapa kau gugup. Itulah mengapa aku tahu mengapa kau selalu menyiapkan diri jika suatu saat aku pergi. Tapi, bahkan jika waktu itu datang, aku tidak khawatir. Bahkan setelah 10 tahun berlalu, aku masih mengenalimu. Bahkan setelah aku kehilangan ingatanku dan bahkan setelah aku menghapusmu dari ingatanku, aku mencintaimu lagi. Jika ada 10 tahun lagi, jika aku kehilangan ingatanku lagi, atau jika waktu itu datang, aku akan mencarimu dan mencintaimu lagi.”
Ternyata itu adalah tulisan terakhir Soo-ha di buku diary.

***


Kwan-woo menemui Joon-guk sebagai pengacaranya.
Kwan-woo: “Aku akan menggunakan cerita mengenai jantung istrimu dan kematian ibu dan anakmu. Sekarang ini, yang bisa kita lakukan hanya menunggu hasilnya. Jangan pernah mengatakan di pengadilan bahwa mereka meninggal karena ayahnya Park Soo-ha atau Jang Hye-sung.”

Joon-guk: “Aku masih percaya bahwa keluargaku meninggal karena mereka.”
Kwan-woo memukul meja, “Tidak, itu bukan karena mereka. Tantu saja, cerita istrimu itu sesuatu yang tidak adil. Walaupun benar bahwa ayah Park Soo-ha melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan, tapi membunuh orang itu membuat semua keluhanmu menghilang.”



Joon-guk: “Hentikan.”
Kwan-woo: “Bukan karena kesaksian Jang Hye-sung yang menyebabkan ibu dan anakmu meninggal. Itu karena kau membunuh seseorang dan masuk penjara. Karena kau tidak berada disana untuk mendukung ibumu yang pikun, dan anakmu, mereka kelaparan hingga meninggal.”

Joon-guk merasa tersinggung: “Jangan mengatakan itu dengan mudah. Pernahkah kau berada dalam posisiku?”
Kwan-woo: “Ya, menjadi pengacaramu, aku berusaha untuk melihat semua kejadian dari sudut pandangmu. Untuk melihat dunia yang kau pikirkan dengan matamu dan dengan pikiranmu. Dan juga, aku menemukan pikiranmu yang benar.”
***


Do-yeon memasuki halaman rumahnya, ada Hakim Seo disana.
Do-yeon: “Ayah. Kau di rumah.”
Hakim Seo: “Aku pulang cepat hari ini. Ada apa ini?”
Do-yeon: “Ibu mengatakan dia meninggalkan beberapa barang miliknya.”
Hakim Seo: “Ada telpon dari Kepala Jaksa. Aku mendengar kau membatalkan pembatalan penuntutan pada kasus Hwang Dal-joong. Dia mengatakan kau akan diperiksa karena melakukan itu.”

Do-yeon: “Aku sudah mempersiapkannya.”
Hakim Seo: “Dalam pemindahan tugas, kau mungkin akan dipindahkan ke kantor cabang jaksa umum. Surat ijin praktek hukum milikmu juga mungkin akan ditahan.”
Do-yeon: “Jika memang itu hukuman yang harus aku terima, alaminya, aku harus menerimanya.”
(Yee, Do-yeon sudah mulai berubah. Dia bisa menerima hukuman atas kesalahannya, berbeda dengan Hakim Seo yang sampai sekarang tidak mau mengakui kesalahannya.)
***


Kembali pada Joon-guk dan Kwan-woo.
Joon-guk: “Kalau begitu, katakan padaku. Apa yang sesungguhnya aku pikirkan.”
Kwan-woo: “Kau menerimanya, kan? Bahwa kau yang memulai semua ini. Kau mungkin menyadari pada suatu waktu. Tapi kau tidak bisa berhenti. Pada saat kau berhenti, hidupmu akan menjadi tidak berarti. Jadi kau terus melanjutkannya. Sementara kau tetap membunuh orang lain dan mengatakan bahwa kau benar, itu adalah kemarahan.”

Joon-guk berkaca-kaca, sepertinya apa yang dikatakan Kwan-woo memang benar adanya.
Joon-guk: “Tolong hentikan.”
Kwan-woo: “Katakan itu di pengadilan. Bahwa kau menyesalinya, bahwa kau mengambil jalan yang tidak seharusnya kau ambil, katakan seperti itu. Jangan menyembunyikannya lagi, dan katakan kebenarannya. Bukankah terasa sepi untuk mengatakan kau benar disaat kau tahu bahwa kau salah?”

Joon-guk tertawa sinis pada dirinya sendiri.
Kwan-woo: “Hanya karena kau mengatakan itu benar, tidak akan membuatnya menjadi benar. Dan melakukannya tidak akan mengubah apapun. Menyadari bahwa kau salah, tapi tetap teguh bahwa kau benar, itu menyiksa diri sendiri. Hidup seperti itu, menjadi sendirian, tanpa seorangpun disisimu.”

(saat Kwan-woo mengatakan itu, diperlihatkan Hakim Seo yang ditinggalkan Do-yeon dan kini sendirian dirumahnya, tanpa anak dan istrinya karena dia bersikukuh bahwa dirinya tidak bersalah, padahal kenyataanya dia salah.)
***


Soo-ha sedang membaca buku di lantai took buku. Lalu ada Seong-bin menghampirinya. Seong-bin menunjukan kukunya. Disana tertulis inisial namanya dan nama Soo-ha. Soo-ha mengatakan bahwa kukunya cantik.
Seong-bin: “Soo-ha, aku berencana akan mengambil ujian masuk Akademi Polisi tahun depan. Jadi, aku bisa bersamamu. Materi apa yang paling bagus untuk di pelajari?”

Soo-ha kemudian mengingat perkataan Joon-gi tentang Soo-ha yang masih saja seperti memberi harapan pada Seong-bin padahal dia tidak punya perasaan pada Seong-bin.

Soo-ha: “Seong-bin. Apakah kau yang memberikan boneka beruang pada Pengacara Jang?”
Seong-bin: “Huh? Oh, bagaimana kau bisa tahu?”
Soo-ha: “Aku membuangnya di sekolah, tapi sekarang berada pada Pengacara Jang. Tidak ada lagi yang akan melakukannya, selain kau.”
Seong-bin: “Aku hanya berpikir kau mungkin membelinya untuk memberikannya pada Pengacara Jang.”

Soo-ha: “Terima kasih. Maka kau juga seharusnya tahu, perasaanku untuk Pengacara Jang.”
Seong-bin agak gugup: “Huh? Aku tahu..”
Soo-ha: “Setelah 11 tahun berlalu, tidak ada yang berubah sama sekali dan akan terus seperti itu.”
Seong-bin terlihat sedih, “Ya..”
Soo-ha: “Maka aku pikir aku bisa memberitahumu. Aku harap sekarang kau akan—“
Seong-bin menyela: “Oke. Aku tahu apa yang akan kau katakan. Jadi kau tidak perlu mengatakannya lagi.”

Soo-ha membaca pikiran Seong-bin: “Berhenti sekang, jika kau mengatakannya lagi, aku mungkin akan menangis.”

Seong-bin berusaha mengalihkan pembicaraan, “Hey, buku-buku ini sangat mahal. Jika aku membelinya untuk mengikutimu, itu akan sangat buruk. Terima kasih telah mengatakannya padaku sebelum aku membelinya.”
Soo-ha: “Maafkan aku.”
Seong-bin: “Tidak apa-apa. Mengapa kau meminta maaf? Aku yang berterima kasih.”
Soo-ha menepuk pundak Seong-bin dan tersenyum: “Aku pergi duluan..”
Seong-bin: “Baik..”


Setelah Soo-ha pergi, Seong-bin berkata pada dirinya sendiri, bahwa dia bodoh.
Dan ternyata, Soo-ha menghubungi Joon-gi untuk menyusul Seong-bin disana.

Joon-gi datang dan menutupi kaki Seong-bin yang terbuka. Dan memarahi pria di deakt situ yang melihat kearah Seong-bin. Seong-bin menunduk, menyembunyikan wajahnya.


Joon-gi: “Hey, Go Seong-bin, apa kau tertidur? Apa kau menangis?  Apakah kau dicampakan oleh Soo-ha?”
Seong-bin mengangkat wajahnya, “Awalnya bagus. Dia bahkan mengatakan tanganku cantik.”
Joon-gi: “Hey, saat pria mengatakan bahwa tangan atau kaki seorang gadis itu cantik, itu berarti wajahnya tidak cantik.”
Seong-bin: “Apa kau harus mengatakan hal semacam itu dalam situasi seperti ini? Apa kau tidak tahu caranya mrnghibur orang?”
(maksud Joon-gi menghibur, tapi hiburannya malah bikin Seog-bin marah..hmm..)

Seong-bin berdiri dan mendorong Joon-gi. Seong-bin pergi dan Joon-gi mengikutinya.
Joon-gi: “Hey, Go Seung-bin. Itu benar bahwa kau jelek. Semakin kau jelek, semakin kau perlu bertemu dengan pria sejati.”
Seong-bin berteriak: “Mengapa kau tidak terus saja menuang minyak di rumah yang terbakar!”
Joon-gi: “Hey, pikirkan itu. Pria lari ke gadis cantik. Hanya karena rupanya saja. Pria seperti itu, yang hanya melihat rupa, adalah pria dangkal. Tapi, pria yang datang pada gadis, sepertimu yang tanpa kecantikan, adalah seseorang yang menyukai hatimu dibandingkan dengan kecantikanmu. Seorang pria dengan kepribadian yang baik.”



Seong-bin memukuli Joon-gi, “Oke, aku memang jelek. Jelek, jadi aku dicampakan oleh Soo-ha.”
Joon-gi: “Hey, bukan itu yang aku katakan. Mengapa kau tidak bisa mengerti apa yang aku katakan?”
Seong-bin: “Tidak, aku tidak tahu! Aku sangat jelek dan benar-benar bodoh. Oke? Kau bahagia?!”
Seong-bin memukul kepala Joon-gi dan bergegas pergi.

Joon-gi: “Oh, gadis itu membuatku frustasi. Apakah aku tidak membuat diriku jelas atau dia yang tidak mengerti? Apa ini? Ah benar-benar.”
Kemudian Joon-gi tersenyum dan akan mengejar Seong-bin, “Dia terlihat cantik.”
***

Kwan-woo masuk ke kantor. Ada Hye-sung disana.
Kwan-woo: “Oh, kau disini. Aku mencarimu untuk membicarakan tentang persidangan Min Joon-guk. Aku mengatakan pada Min Joon-guk untuk tidak menyebutkan apapun tentang kalian berdua, jadi nama kalian tidak akan keluar di persidangan.”
Hye-sung: “Kali ini dia mengakui semuanya kan?”
Kwan-woo: “Ya. Aku mengatakan padanya untuk mengakui semua kesalahannya.”
Hye-sung: “Pengacara Cha, aku dengar dari Soo-ha… kau mengubah pikiran Do-yeon, bahwa kau meyakinkannya.”

Kwan-woo merendah, “Oh, tidak seperti itu..aku hanya mengatakan pandangan Jaksa Seo salah. Walaupun aku tidak mengatakan apapun, dia akan melakukan hal yang sama.”
Hye-sung: “Kali ini kau tidak perlu merendah.”



Hye-sung tersenyum, kemudian menghampiri Kwan-woo dan menjulurkan tangannya.
Hye-sung: “Terima kasih.”
Kwan-woo menjabat tangan Hye-sung, “Tidak masalah.”
Hye-sung lalu mencium tangan Kwan-woo, seperti yang pernah Kwan-woo lakukan saat setelah persidangan kakek tuli.

Kwan-woo terkejut, “Apa…ini…?”
Hye-sung: “Sebuah ucapan, untuk semua hal yang kau lakukan. Aku berterima kasih. Untuk menyukaiku, memikirkanku, dan menolong Soo-ha. Aku berterima kasih untuk semuanya.”
Hye-sung akan melepaskan tangannya, tapi di tarik kembali oleh Kwan-woo.
Kwan-woo: “Oke, ucapanmu, aku terima.”
Mereka berdua tersenyum.

“Ehm.. aku ada disini sepanjang waktu!” ternyata ada Pengacara Shin di ruangan itu, yang merasa di acuhkan.
Hye-sung: “Kami tahu. Kami tahu..”
Kwan-woo tersenyum.


Kemudian masuk Yoo-chang, “Yuhu…apakah kalian sudah mendengarnya?! Apa kau tahu jaksa itu? Dia sedang berada dalam penyelidikan.
Semua terkejut.
Pengacara Shin: “Kenapa?”
Kwan-woo: “Penyelidikan?”
Hye-sung: “Kenapa?”

Yoo-chang: “Apa maksud kalian kenapa? Dia ketahuan melakukan apapun yang dia inginkan dalam kasus Hwang Dal-joong. Selama perpindahan, dia akan pindah ke kantor cabang penuntut umum. Surat ijin praktek hukumnya pun akan di sita juga. Uhu..”
Yoo-chang kegirangan, tapi tidak dengan yang lain. Yoo-chang tidak tahu kejadian yang sesungguhnya..




Yoo-chang bingung dengan reaksi yang lain, “Apakah hanya aku yang merasa gembira? Kalian semua membenci Jaksa Seo karena dia seorang ****. Pengacara Jang, dia bahakan menampar pipimu.”
Hye-sung bersiap pergi: “Apa kau begitu bahagia melihat sesuatu yang buruk terjadi pada seseorang?”
Kwan-woo juga bersiap pergi: “Aku benar-benar kecewa padamu, Yoo-chang.”
Pengacara Shin juga, dia menepuk pundah Yoo-chang sebelum pergi, “Kau tidak boleh seperti itu.”
***

Hye-sung menuju lift, dan disana ada Do-yeon yang sedang menunggu lift. Hye-sung menyapanya.
Hye-sung: “Aku dengar kau sedang di selidiki.”
Do-yeon: “Apakah rumor sudah menyebar sejauh itu?”
Hye-sung: “Ya. Apakah kau baik-baik saja?”
Do-yeon: “Ya. Ini maslah bagi bagian personalia. Bukan sesuatu yang harus kau khawatirkan.”
Hye-sung bertanya apakah itu karena kasus Soo-ha. Tapi, Do-yeon bilang bukan, kasus Soo-ha itu kasus yang mudah. Lalu Hye-sung menebak kalau itu karena kasus ayahnya Do-yeon (Dal-joong).

Mereka pun masuk ke dalam lift, kemudian mereka melihat seseorang datang dari jauh dan akan ikut masuk. Mereka kompak menekan tombol tutup pint. Tapi sayang, orang itu, Hakim Kim, berhasil menghentikan  pintu lift yang akan tertutup dengan tangannya.



Setelah mengucapkan terima kasih Hakim Kim pun masuk, dan berdiri di tengah.
Hye-sung pada Do-yeon: “Bagaimanapun, terima kasih telah berada di pihak Soo-ha.”
Hakim Kim mengira itu ditujukan padanya, dia tersenyum, “ah ya. Aku berada di tengah,--“
Do-yeon: “Aku pikir kau harus berterima kasih pada Pengacara Cha. Dia menempel dan merengek-rengek padaku. Itu sangat mengganggu, itulah mengapa aku melakukannya.”
Hye-sung: “Aku sudah berterima kasih pada Pengacara Cha.”
Hakim Kim masih saja tersenyum, “Aku juga meminta Jaksa Seo untuk menolongnya.”

Do-yeon: “Dia seorang pengacara yang hebat. Dia bilang ada hati dalam hukum. Dia meyakinkanku dan itu membantuku.”
Hakim Kim: “Aku mengatakannya, tentang hati di dalam hukum.”
Hye-sung: “Pengacara Cha memang pintar berbicara.”
Do-yeon dan Hye-sung tersenyum senang mempermainkan Hakim Kim. Mereka pun keluar.



Hakim Kim: “Hey, Pengacara Jang! Kau benar-benar keterlaluan. Apakah sangat sulit untuk mengucapkan terima kasih?”
Hye-sung kemudian berbalik dan tersenyum, “Terima kasih.”
Hakim Kim terkejut, “Oh, kau mengatakannya. Wow, kau benar-benar melakukannya. Tunggu, aku harus mengambil gambar. Aku harus menyimpannya sebagai bukti.”
Tapi pintu lift keburu tertutup.


Hye-sung berjalan bersama Do-yeon.
Do-yeon: “Walaupun aku dipindahkan ke kantor cabang, sunbae Cho akan menyelesaikan kasus Min Joon-guk. Jadi, jangan khawatir. Kau akan datang untuk melihat persidangannya kan?”
Hye-sung: “Tidak, aku sibuk sejak aku masuk ke tempat kursus. Aku tidak punya waktu untuk mengikuti kasus Min Joon-guk.”

Do-yeon: “Tapi, bukankah tetap harus melihatnya? Dia adalah orang yang membunuh ibumu. Dia juga menyusahkanmu setelah 11 tahun. Tidakah kau ingin melihat apa yang terjadi padanya?”
Hye-sung: “Tidak juga. Kalian akan mengurusnya, aku kira.”
Do-yeon: “Baiklah, jangan khawatir. Sunbae Cho pasti akan mengeksekusinya apapun yang terjadi.”

Hye-sung: “Apakah kau pikir aku ingin melihat Min Joon-guk mendapatkan hukuman mati?”
Do-yeon: “Kau tidak menginginkannya? Manusia itu harus mati. Tidak, itu hanya pemborosan menyebutnya sebagai manusia.”
Hye-sung: “Aku tidak yakin.”
Do-yeon: “Apa ini? Apa kau masih bersikap seperti seorang pengacara? Karena di saat menjadi seorang pengacara yang mempunyai kewajiban yang luar biasa?”
Hye-sung: “Kewajiban yang luar biasa apanya..”
 
Do-yeon: “Lalu mengapa kau seperti ini? Apa kau mengasihaninya? Apa kau bersimpati padanya sekarang?”
Hye-sung: “Kau pikir aku Ibu Theresa, sehingga bisa mengasihani orang semacam itu? Bukan seperti itu.”
Do-yeon: “Jika tidak, lalu apa?”

Hye-sung: “Aku akan sama seperti Min Joon-guk, jika aku mengatakan padanya bahwa dia harus mati juga karena telah membunuh ibuku. Aku merasa kotor karena aku merasa aku akan menjadi dalam level yang sama dengan pria itu. Jadi, aku menentangnya.”
***
Dua bulan kemudian.



Hye-sung sedang melipat baju, dan Soo-ha sedang mengelap piring.
Hye-sung: “Soo-ha.. kau tahu besok adalah persidangan Min Joon-guk, kan?”
Soo-ha: “Ya, aku tahu.”
Hye-sung: “Apa kau akan melihatnya?”
Soo-ha: “Tidak, kau tahu bahwa aku ada wawancara untuk Akademi Polisi.”

Hye-sung: “Soo-ha, apakah kau menginginkan Min Joon-guk menerima keputusan hukuman mati?”
Soo-ha: “Dulu iya, tapi sekarang tidak lagi.”
Hye-sung: “Mengapa? Ah tidak, jangan mengatakannya padaku. Aku akan mencoba menebaknya. Kau tidak mau menjadi orang yang sama dengannya, kan?”
Soo-ha: “Bagaimana kau bisa tahu?”
Hye-sung: “Aku pikir aku mempunyai kemampuan yang sama denganmu.”

Lalu Hye-sung melihat jam tangannya, “Oh, waktunya baseball.”
Hye-sung menuju lemari es, dan Soo-ha menuju sofa.
Soo-ha: “Mengapa kau menghampiri lemari es saat kau akan menonton baseball?”
Hye-sung: “Hey, ayo kita menonton sambil menggunakan ini.”



Mata Soo-ha terbelalak, “Aku tidak mau. Aku tidak akan pernah menggunakannya.”
Namun akhirnya Soo-ha menggunakannya juga. Hye-sung menonton pertandingan dengan sangat gembira, sampai mencekik Soo-ha, dan Soo-ha tersedak.

Terdengar suara Hye-sung: “Soo-ha tidak menyukai pergi ke tempat dimana banyak orang berada disana. Jadi, kamu tidak pergi ke stadion baseball atau ke bioskop.”

Suara Soo-ha: “Pengacara Jang menjadi seorang monster saat dia menonton baseball. Terkadang, dia membuatku takut.”



Soo-ha menyiapkan sarapan untuk Hye-sung. Hye-sung melihatnya dengan cemberut.
Suara Hye-sung: “Soo-ha bagus dalam memasak karena dia sudah memasak untuk dirinya sendiri sejak sekolah menengah pertama. Itu pasti sangat sepi.”

Hye-sung mencampur nasi dan lauk-pauknya dalam sebuah mangkuk besar. Soo-ha tidak marah, dia malah memandanginya dengan penuh senyuman sayang.
Suara Soo-ha: “Alasan mengapa Pengacara Jang memakan makanan anjing adalah karena dia menjalani hidupnya dengan sangat padat, sehingga dia tidak mempunyai waktu untuk memasak. Itu pasti sangat melelahkan.”


Hye-sung dan Soo-ha keluar rumah, berangkat bersama. Soo-ha membawakan berkas Hye-sung.
Soo-ha: “Aku pikir Pengacara Jang tetap memikirkan akhir yang akan datang. Aku tidak peduli jika dia berpikir seperti itu. Karena jika akhirnya akan datang, aku akan pergi mencarinya dan memulai kembali dengannya, dan akan berbahagia kembali.”

Hye-sung: “Kapanpun aku melihat Soo-ha, aku menjadi gugup. Karena hubungan ini bisa berakhir kapan saja. Dalam rangka untuk membuang kegugupan itu, aku akan menghargai dan memahaminya lebih lagi. Aku akan bahagia bersama Soo-ha untuk waktu yang lama, bahkan dengan kegugupan itu.”
***



Soo-ha dipanggil ke ruangan wawancara.
Jendral (aku sebut saja gitu ya): “Park Soo-ha, nilaimu berada di atas rata-rata. Kondisi fisikmu juga sangat bagus. Tapi, kau tidak lulus Sekolah Menengah Atas.”
Soo-ha: “Ya.”
Jendral: “Mengapa kau keluar?”

Soo-ha membaca pikiran di Jendral, “Park Soo-ha, kau sepertinya sangat terkenal di antara para polisi. Aku penasaran bagaimana sebenarnya dia.”

Soo-ha menjawab: “Banyak hal terjadi. Aku kehilangan ingatanku selama satu tahun, dan juga menjalani persidangan untuk pembunuhan.”
Jendral: “Bahkan setelah mengalami banyak hal yang sulit, kau datang kesini.”
Soo-ha tersenyum: “Ya..jika aku sendirian, aku tidak akan berada disini sekarang.”
Jendral: “Apakah ada seseorang…menolongmu?”

Soo-ha: “Ada banyak orang, tapi ada seseorang yang paling berkesan, seseorang yang membuatku menjadi dewasa. Kepercayaannya pada orang lain terlalu berlebihan, sehingga membuatnya terlihat sedikit bodoh. Tapi dengan kepercayaannya, aku melihat dia mengubah seseorang. Dan membuatku menghormatinya sebagai seorang yang dewasa dan seseorang yang hebat.”

Orang itu adalah Cha Kwan-woo. Dia sekarang sedang menemani Min Joon-guk yang akan menjalani persidangan akhir di ruang tunggu.


Kwan-woo: “Jika kau menerima keputusan hukuman penjara seumur hidup, mereka mungkin akan menghajukan banding ke pengadilan tinggi untuk hukuman mati. Dalam titik itu, mereka akan menggabungkan kasusnya dengan kasus pembunuhan ibunya Pengacara Jang dan yang lain. Itu akan menjadi perjuangan yang sulit.”

Joon-guk: “Bagaimana jika aku mendapatkan keputusan eksekusi?”
Kwan-woo: “Maka, tentu saja, pihak kita yang akan mengajukan banding.”
Joon-guk: “Pihak kita?”
Kwan-woo: “Kenapa? Apakah kita tidak harus mengajukan banding?”
Joon-guk: “Tidak…bukan itu. Itu…kau mengatakan kita. Itu kata yang sudah lama tidak aku dengar.”

Suara Soo-ha: “Dan juga, ada seseorang yang terlalu percaya diri sebagai seorang jaksa umum. Kemudian, orang itu mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Aku menyadari bahwa orang yang bisa berintrospeksi diri dan meminta maaf, adalah orang yang hebat.”

Orang itu adalah Do-yeon. Do-yeon menunjukan gambar yang dibuatnya pada ayahnya (Dal-joong) yang kini berada di ruang ICU. Do-yeon mencium tangan ayahnya dan terus menemaninya.




Soo-ha: “Dan juga, ada seseorang yang menunjukan padaku jalan yang tidak seharusnya aku ikuti.  Dia adalah  orang yang memilih jalan hidup sebagai seorang binatang daripada hidup sebagai manusia. Orang itu tidak dewasa dan patut dikasihani.”

Orang itu adalah Min Joon-guk. Dia sedang berdiri di persidangan mendengarkan pembacaan keputusan hakim.


Hakim Kim: “Terdakwa mengakui semua kejahatannya untuk balas dendam, dan untuk menutupi kejahatannya dia membunuh orang yang tidak bersalah. Dia mencoba menutupinya agar terlihat seperti kecelakan dengan kekejamannya. Akan tetapi, korban, Dokter Woo, memalsukan dokumen yang menyebabkan kematian istri terdakwa. Terdakwa, yang menjadi kepala rumah tangga, di penjara, kemudian ibu dan anaknya meninggal. Keadaan seperti itu, mendorong terdakwa mempunyai kelakuan tidak baik. Dan juga dalam ruangan persidangan, terdakwa telah menyadari semua kesalahan yang telah dilakukannya, dan penyesalannya menjadi bahan pertimbangan. Oleh karena itu, terdakwa menerima hukuman penjara seumur hidup.”



Joon-guk memejamkan matanya lega. Jaksa Cho dan Kwan-woo juga tampaknya merasa lega.
(Aku rasa Jaksa Cho diberi tahu Do-yeon bahwa Hye-sung tidak menginginkan Joon-guk dihukum mati. Jadi dia hanya menuntuk hukuman penjara seumur hidup.)

Soo-ha: “Dan juga, ada saat dimana aku harus membuat pilihan yang sama.”
Jendral: “Kau membuat pilihan yang sama?”
Soo-ha: “Ya, aku juga ingin membalas dendam dan hampir membuat pilihan yang sama. Jika orang itu tidak ada disana untukku, aku mungkin akan hidup sebagai binatang sekarang.”
Jendral: “Orang itu?”

Soo-ha: “Ya. Orang yang tidak bisa dipercaya tidak memiliki tata karma dan benar-benar tidak rendah hati. Orang yang seperti itu mulai bertarung untuk kebenaran, dan memulai melihat orang lain. Dan juga, orang itu muncul sebagai cahaya dan jalan saat aku dalam kegelapan. Jika orang itu tidak ada, aku mungkin tidak akan bisa sejauh ini.”

Orang itu adalah Hye-sung. Dia sedang di dalam kelas Kursus bahasa isyarat.




Soo-ha tersenyum, “Karena orang itu, aku menyadari betapa pentingnya melindungi seseorang. Karena orang itu, aku juga menyadari betapa pentingnya mendengarkan cerita orang lain. Itu sebabknya aku percaya aku bisa menjadi seorang polisi yang hebat.”



Jendral tersenyum.
***

Hye-sung diminta mempraktekan bahasa isyarat yang telah dipelajarinya oleh pengajar.
Hye-sung di tempat kurus bekata dalam bahasa isyarat, “Meskipun ini sulit, mari kita mulai bersama…”



Kini Hye-sung sedang menemui kliennya, “…aku mendengar semua yang kau katakan. Aku akan mendengarkan ceritamu dari pandanganmu. Aku adalah pembela umum-mu.”


Hye-sung tersenyum.

THE END.





1 komentar: